• Home
  • Photography
    • Landscape and Nature
    • People and Street
    • Portrait and Models
    • Belajar Fotografi
    • Tutorial Photoshop
  • Coffee Corner
  • Aftertaste Story
  • Gallery
    • Landscape and Nature
    • Human Interest
    • Black and White
    • Instagram
  • Travel
  • About

Aftertaste Blog

By Safruddin Alwi

Panorama Tanjung Aan - Safruddin Alwi
Trip singkat yang cuma sehari (daycation) di lombok ini memanfaatkan sela-sela waktu tugas. Saya sengaja mengambil jadwal flight paling telat untuk memanfaatkan waktu seharian menikmati lombok. Dengan waktu hanya sehari jelas tidak mungkin mengeksplore tempat-tempat paling eksotis di lombok, sebut saja gili-gili yang semakin populer tidak hanya di Indonesia. Jadi setelah menghabiskan waktu berbelanja oleh-oleh (menu wajib wisatawan Indonesia.. :D ) kami akan mengunjungi pantai tanjung aan di kawasan pantai kuta lombok tengah. Searah dengan tanjung aan kami juga akan mampir ke dusun sade, yang merupakan salah satu komunitas suku sasak tertua di lombok.
Paduan Pasir Putih dan Karang Tanjung Aan
Pantai Tanjung Aan
Enaknya traveling di lombok banyak pilihan obyek wisata yang relatif mudah diakses. Seperti pantai tanjung aan ini, memang masih ada bagian-bagian jalanan yang rusak, namun dengan waktu perjalanan selama satu jam  kita bisa sampai di lokasi. Rasanya hal-hal menarik yang biasanya dicari dari sebuah pantai ada disini. paduan pasir putih yang membentang panjang dan bagian lainnya yang tertutup karang menjadikannya sangat elok. Banyak wisatawann asing yang ke tanjung aan dengan membawa papan selancar, untuk menantang ombak di teluk yang terbilang cukup kuat. Pilihan menarik lain yang bisa dijelajahi adalah obyek wisata batu payung yang bisa diakses dengan perahu dari tanjung aan kurang lebih 15 menit. Lokasi yang terakhir ini, menjadi populer sejak dijadikan tempat syuting iklan rokok. Dikalangan pehobi fotografi batu payung juga menjadi salah satu obyek buruan di lombok.
Minusnya mungkin, dikarenakan lokasi pantai tanjung aan masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat menjadikannya kurang penataan. Banyak yang menyambi sebagai pedagang makanan dan souvenir. Mereka bisa berkali-kali menawarkan dagangannya, sekalipun sudah ditolak. Umumnya orang ke pantai untuk menikmati alamnya atau sekedar menyendiri, yang menjadi tidak nyaman jika harus disambi dengan berbelanja. Lagian umumnya kita tidak membawa dompet sebelum menyebur di pantai. Dalam bayangan saya, akan lebih nyaman jika lokasi jualan souvenir dan makanan dipusatkan disatu tempat. Kurang lebih seperti yang ada di Lagoi bintan. Jadi seselesainya mengeksplore pantai bisa dilanjut berbelanja bagi yang ingin. 
Dusun Sade, Suku Sasak - Safruddin Alwi
Dusun Sade, Suku Sasak
Lokasi dusun sade cukup dekat dari bandara. Dapat ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 30 menit. Mereka adalah masyakarat suku sasak yang hidup berkelompok dalam satu guyub. Di dusun sade ada sekitar 150 rumah yang kesemuanya masih satu rumpun keluarga. Guide kami bercerita bahwa tradisi dan kelompok suku sasak di dusun sade ini sudah ada sejak tahun 1.079. Yap.. hampir seribu tahun yang lalu. Bentuk bangunan rumah masih mempertahankan budaya turun temurun tersebut. Dengan atap dari ilalang, dinding jelaja dan lanti tanah yang dimaintenance dengan (maaf) kotoran kerbau. Bahan tersebut konon mencegah lantai rumah yang berupa tanah tersebut tidak mudah retak. Bangunan rumah ini tidak cukup besar, hanya ada tiga bilik di dalamnya untuk dapur dan kamar tuan rumah, serta dua bilik kamar masing-masing untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Kamar tuan rumah yang digabung dengan dapur juga digunakan untuk proses persalinan. Kamar mandi dibangun terpisah, yang letaknya biasanya di depan rumah.
Pengrajin Songket Suku Sasak
Sekalipun banyak sekali warganya yang berjualan souvenir, mulai dari handycraft sampai dengan kain songket, mata pencaharian utama masyarakat di dusun sade adalah petani. Makanya sebagian besar pengrajin songket tersebut adalah wanita. Mulai dari proses pemintalan benang sampai dengan proses tenun menggunakan alat tradisional. Budaya yang masih dipertahankan meskipun sudah ada pasokan listrik di dusun ini. 
Melihat lokasi dusun sade dan perilaku masyarakatnya, saya cukup heran. Dalam bayangan saya sebelumnya mereka seperti keberadaan suku kajang di sulawesi selatan, yang cukup terisolasi secara geografis dan tertutup terhadap pendatang. Sehingga masyarakat suku kajang tersebut dapat menjaga garis trah kekeluargaan dalam kelompoknya, dengan tradisi pernikahan dan tatanan sosialnya yang masih murni. Namun di suku sasak dusun sade cukup unik, mereka lebih terbuka dengan masyarakat luar dan relatif mudah diakses dari segi geografis. Sebagai gambaran, jika kita ingin berkunjung ke suku Kajang di Sulsel kita harus mengenakan pakaian hitam/gelap dan meminta izin ke pemimpin suku. Tidak demikian dengan suku sasak dusun sade. Sekalipun lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat diluar kelompoknya yang memiliki perbedaan kultur, warganya tetap menjaga tradisi dan budayanya.
Masjid di Dusun Sade
Ditengah-tengah perkampungan berdiri sebuah masjid yang diberi nama nur syahada. Saya penasaran dari manakah syiar islam sampai ke dusun sade ini. Dengan melihat sejarahnya dimana dikawasan bali dan nusa tenggara agama hindu lebih dulu dikenal dan berkembang luas. Dan mengingat keberadaan suku sasak di dusun sade yang sudah hampir seribu tahun yang lalu, menjadi sangat menarik mengetahui bagaimana masyarakat disini berinteraksi dan menerima syiar islam. Sayangnya saya tidak memiliki referensi tentang hal tersebut. 
Bersama Guide kami
Waktu yang singkat tidak berarti sedikit yang bisa dinikmati dari traveling kali ini. Yang pasti Lombok destinasi wisata yang sangat menarik. I put it on my bucket list. Kepp traveling, keep happy. SALAM.
Aku dan Sepedaku - By Safruddin Alwi
2012 Di Pulau Sedanau, Natuna Kepri saat hari ujian nasional

Ini hari jumat, masih ada cukup waktu sebelum adzan sholat jumat. Mobil sengaja ku parkir di rumah saja, dan memilih berjalan kaki ke masjid dalam kompleks yang terbilang tidak jauh. Baru saja berjalan beberapa saat perhatian ku teralihkan oleh seorang anak laki-laki. Dia sedang menangis sendirian di dekat taman. Di sampingnya ada sepeda yang tergeletak alakadarnya. Kutaksir dia anak usia SD. Saat saya mendekat anak itu mulai bercerita "om saya jatuh dari sepeda kaki ku luka berdarah". Sambil kulihat ada kulit yg terkelupas di telapak kakinya dan luka lecet di betisnya berdarah. Saya sempat bergumam dalam hati pasti sakit sekali. "Hmm perlu dibersihkan pakai air hangat baru ditutup lukanya ya.." Pilihan kalimat itu yang saya ucapkan alih-alih menanyakan apakah terasa sakit atau tidak. Mendengar pertanyaan beruntun dari saya, anak ini pun berhenti menangis dan mulai  asik bercerita tentang rumah, sekolah dan sepedanya. Pikiran negatif mungkin tidak ada obatnya, tapi pikiran positif itu menular. 

Saya menawarkan untuk mengantar pulang kerumahnya supaya lukanya segera diobati. "Om kakiku masih sakit, om yang bawa sepeda dan bonceng saya ya?". Pertanyaan anak ini menghentak bagi saya. Karena satu hal, saya tidak pandai naik sepeda. Saya beralasan sepedanya kekecilan, jadilah saya mengantar anak tadi sambil mendorong sepeda ke rumahnya. Sepanjang jalan anak ini terus bercerita sambil sesekali mengaduh. Sambil menyimak ceritanya pikiran saya sibuk mencari memori-memori tua dalam kepala saya tentang sepeda.

Hasil berusaha mengingat-ingat lagi semuanya, saya tidak pernah punya sepeda dan tidak pernah bisa naik sepeda. Pernah sesekali saya berlatih dengan sepeda teman saya di SD dan SMP namun tidak pernah sampai mahir. Saya pernah ingin sekali punya sepeda, dan kemudian memilih untuk melupakannya. Tapi ternyata saya tidak sepenuhnya lupa dengan keinginan itu.

Saya berdarah bugis namun lahir dan besar di kota kecil di pulau muna. Masa kecil saya luar biasa menyenangkan. Tidak ada satu bagian pun yang ingin ku ganti. Saat masih bersekolah di SD suatu kejadian memukul ekonomi keluarga kami sampai titik terendah. Bapak saya seorang pedagang dengan sebuah toko di pasar sentral. Usaha ini mampu mensejahterakan kami sekeluarga. Sebelum api yang membakar habis pasar sentral ikut meratakan usaha orang tua saya.
 
Memori masa kecil saya  mengingat api itu menyenangkan. Sewaktu kegiatan pramuka kami membuat api unggun yang besar. Kami bermain lompat tongkat depan api unggun. Api itu tampak hangat, semua gembira semua bernyanyi. Tapi tidak hari ini. Subuh dini hari semua orang panik. Bapak dan abang saya bergegas menuju pasar tanpa persiapan apapun, bahkan lupa dengan sandal mereka. Masih berharap ada yg bisa diselamatkan dari barang dagangan di toko. Ibu dan kakak perempuan saya tetap tinggal dirumah penuh dengan kecemasan. Saya merasa cukup berani dan bergegas mengikuti langkah cepat mereka, sebelum abang saya menyetop langkah ku puluhan meter sebelum area pasar. Bahkan dari jarak puluhan meter di tempatku berdiri terasa sangat panas. Saya mendongak tinggi mencari ujung api yang membakar pasar itu. Tidak bisa ku lihat, besar sekali api ini. Matahari sudah meninggi saat semuanya padam. Bau gosong dan asap pekat menutup semuanya, memedihkan mata sampai berair. Juga bapak saya, entah karena asap atau asa yang pupus. Tidak ada yang terselamatkan.

Sudah ku bilang sebelumnya masa kecil saya luar biasa menyenangkan. Di sekolah saya berprestasi, namaku selalu disebut terdepan saat pembagian raport. Temanku banyak, beragam permainan kampung yang asik menjadi keseharian kami. Keluarga ku harmonis, saya anak bungsu yang disayang semua orang. Sepulang sekolah saya suka sekali ikut ke toko bapak saya di pasar. Perjalanan diantara lods-lods, segala rupa orang yang berdesakan entah untuk apa dan aneka suara toak penjual obat keliling direkam sebagai petualangan seru dikepalaku saat itu. Sesekali ku buat perahu kertas untuk dihanyutkan di parit. Ku kejar setengah mati untuk melihatnya berkelok-kelok dan menghilang dalam bak kontrol saluran air. Seru sekali. Selain itu banyak jajanan yang lewat depan toko. Bapak saya rajin menawarkan, semacam upah saya membantu orang tua.

Berprestasi disekolah, rajin membantu orang tua dan kaki saya sudah cukup panjang untuk sampai di pedal roda. Alasan yang sangat komplit untuk meminta sepeda. Ibu saya tentu saja setuju, dan waktunya telah ditetapkan setelah pembagian raport di sekolah. Kejadian kebakaran pasar sentral datang lebih dahulu dari pembagian raport. Ibu dan bapak saya tidak pernah membatalkan janjinya, saya sendiri yang memilih tidak lagi menginginkan sepeda. Bukan, bukan karena saya tidak ingin menambah beban orang tua. Saya tidak semulia itu. Pikiran anak-anak saya waktu itu sederhana, saya ingin sepeda untuk dipakai ke pasar karena pasti akan lebih seru. Nah pasar yang menjadi tujuan naik sepedanya sudah tidak ada, jadi tidak perlu ada sepeda.

Mengingat-ingat kembali lagi semuanya tidak membuat saya menyesali tidak pernah memiliki sepeda. Apa yang terjadi dengan usaha bapak saya bukan pilihan bagi mereka. Maka memilih melupakan sepeda jadi pilihan yang bagus. Saya bersyukur sempat berpikiran cukup lugu bahwa sepeda harus berpasangan dengan pasar.  

Tapi sejak bertemu dengan anak laki-laki yang jatuh dari sepeda tadi saya jadi menyesal tidak pernah pandai naik sepeda. Jadilah saya saat ini pria berusia 32 tahun, sudah menikah dan memiliki seorang bayi cantik, namun tidak pandai bersepeda. Beberapa tahun lagi anak saya akan belajar naik sepeda. Tentu saja ibunya yang akan mengajarinya. Saya mulai membayangkan bagaimana dia memulainya dan bagaimana jika dia terjatuh. Saya yakin dia akan berani untuk bangkit lagi meskipun lututnya terluka. Karena saya yang akan mengajarinya hal itu.
Disambut matahari pagi
Setiap perjalanan layak untuk dinikmati. Perjalanan liburan yang menyenangkan ataupun perjalanan yang menguji adrenalin. Seperti yang orang-orang bilang life is a journey. Hidup itu sendiri sebuah perjalanan. Bertemu orang-orang baru dan mengenal kehidupan mereka satu dari banyak hal yang membuat perjalanan menarik. Dari mengenal kehidupan mereka kita bisa belajar sesuatu. Tulisan ini memuat jurnal perjalanan kira-kira setahun yang lalu.   
Sang Nakhoda - by Safruddin Alwi
Kepulauan Selayar 2014, Dari namanya sudah tergambar, daerah ini merupakan gugusan pulau. Untuk tugas kali ini, Saya dan tim menempuh perjalanan laut selama seminggu menyusuri beberapa pulau di Kepulauan Selayar. Mulai dari Benteng (ibu kota Selayar) menuju pulau-pulau utama : Pasimunggu, Pasimasunggu Timur, Pasimarannu, Taka Bonerate. Serta beberapa pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Tidak banyak alternatif transportasi menuju pulau-pulau ini. Kami menggunakan kapal kayu. Mengingat tidak ada penginapan di daerah yang kami tuju, rencana perjalanan harus kami atur supaya bisa sampai ditujuan pagi hari dan bisa menyelesaikan pekerjaan untuk selanjutnya menuju ke pulau berikutnya. Urusan tidur malam hari tentu saja harus di atas kapal. Nakhoda yang memimpin perjalanan kami dengan kapal ini. Kapal ini jelas jauh dari yang namanya teknologi. Benda paling canggih yang saya liat diruang kemudi senter dan kompas. Begitu pun, Nakhoda lebih sering mengamati langit ketimbang kompasnya. Mungkin pengalaman dan intuisinya lebih akurat dibandingkan kompas yang dia butuhkan.
Kendali Kemudi - by Safruddin Alwi
Menemani Nakhoda ada tiga orang ABK (anak buah kapal). Masing-masing dari ABK ini selalu menempati posisi satu dianjungan kapal dan buritan, masing-masing di kiri dan kanan. Satu diantara ABK tersebut sepertinya lebih dipercaya oleh Nakhoda. Sesekali ABK tersebut menggantikannya di balik kendali kemudi. Namun tidak demikian saat harus lepas tambat atau merapat di pelabuhan. Nakhoda selalu pegang kendali kemudi. ABK yang dipercaya menjadi asisten tersebut "diberi pengalaman" dibalik kemudi hanya dikondisi normal. Sembari pak Nakhoda beristirahat.

Aturan utama di kapal ini Nakhoda yang menentukan aturan. My ship my rules. Tentang kapan harus berangkat, sewaktu akan meninggalkan pelabuhan Pasimasunggu Timur, pukul 10 malam semuanya sudah berkumpul di pelabuhan. Barang sudah dinaikkan ke kapal. Nakhoda masih duduk di atap kapal sambil ngerokok mengamati langit dan memutuskan tidak akan berangkat sekarang.Sekalipun semuanya sudah siap. Alasannya satu "belum bagus untuk berangkat" katanya. Kami harus mahfum dengan keputusannya. Kami menunggu waktu yang "bagus untuk berangkat" itu sampai jam 3 dini hari. Alhasil kami sampai lebih telat dari yang seharusnya di tujuan berikutnya. Namun sekali lagi jadwal kami yang harus menyesuaikan keputusan nakhoda. Yang menjadi pertimbangan Nakhoda tidak selalu hal yang logis dipahani awam. Seperti kejadian semalam, waktu yang "belum bagus untuk berangkat" itu karena Nakhoda ingin mendahulukan satu kapal lainnya yang juga ada di pelabuhan untuk berangkat lebih dahulu. Konon pemilik kapal tersebut cukup terganggu dengan kehadiran kami yang numpang merapat di pelabuhan tersebut. Jadi Nakhoda memutuskan mempersilahkan kapal tersebut lebih dahulu.

Nakhoda berkomunikasi dengan ABK dengan membunyikan semacam lonceng. Semacam bahasa sandi antar mereka. Untuk memberikan semacam kode. Seperti saat harus bersiap diposisinya untuk melempar tali atau menarik jangkar. Di atap ruang kemudi ada pintu yang menghadap ke atas. Saat cuaca kurang baik Nakhoda akan duduk di atap kapal, membuka pintu tersebut dan mengendalikan kemudi dengan kakinya. Ini untuk memudahkan Nakhoda mengamati cuaca dan menginstruksikan ABK nya. Mereka punya tradisi sendiri.  Seperti saat kami tidak jadi berangkat pada hari jumat seperti yang semula kami rencanakan. Menurut pak Nakhoda, mereka tidak melakukan perjalanan panjang pada hari Jumat. Kebiasaan ini terbawa sejak jaman masih menggunakan layar. Karenanya pergerakan kapal sangat bergantung dengan kecepatan  angin. Dikhawatirkan para pelaut tidak akan sempat melakukan sholat jumat jika harus melakukan perjalanan jauh.   
Di lorong kapal - by Safruddin Alwi
Sepanjang perjalanan banyak cerita mistis tentang laut. Berhubung saya tidak percaya dengan hal-hal seperti itu semua cerita tersebut hanya informasi numpang lewat. Saya lebih tertarik bagaimana mereka mengorganisir kapal ini. Bagaimana sang nakhoda memimpin kapal. Karena saya sangat yakin tidak ada pendidikan formal yang membawanya menjadi pemimpin di atas kapal ini. Tidak ada teknologi yang menjamin kapal ini bisa sampai ke tujuan. Bahkan tidak ada pelampung yang menjamin keselamatan kami jika kapal ini karam. Iseng saya bertanya kalau kapal ini karam apa yang harus dilakukan. Jawabannya bertahan dikapal selama mungkin. Kapal ini terbuat dari kayu secara teori sebagian besarnya akan mengapung. Pilihan terakhir adalah jeregen dan galon. Caranya ? cukup mengikat jeregen dan galon kosong tersebut ke badan. Solusi yang sederhana mengingat kami berada di ujung kaki sulawesi mengarah ke laut banda. Sering kali kapal yang tidak sanggup melawan ombak yang mengganas akan terdampar di perairan Nusa Tenggara. Yap betul di provinsi berbeda.

Kami yang berada di kapal ini punya tujuan yang sama, searah dengan tujuan kapal ini. dan pastinya semuanya ingin selamat. Cukup dua alasan ini. Selebihnya hanya butuh saling percaya. Kami harus percaya bahwa nakhoda akan membawa kami sampai tujuan. dan Nakhoda harus percaya ABK nya bisa diandalkan serta percaya kami akan mematuhi jadwal kami harus berangkat.  
Di akhir perjalanan, kami tiba di pulau Tinabo taman nasional Takabonerate. Saya sudah meminta hal yang tidak mudah ke tim untuk melakukan perjalanan ini demi tugas. Karenanya saya ingin beri kelonggaran waktu untuk menikmati taman nasional takabonerate yang memang indah. Maka bersantailah kami di pulau Tinabo. Rencananya bisa menikmati sunset di pulau ini. Namun di waktu ashar yang masih sangat cerah, Nakhoda sudah gusar dan meminta kami untuk bisa secepatnya berangkat karena akan ada badai menurut pengamatannya. Mata awam saya mengamati langit yang tampak baik-baik saja, cerah dengan sedikit awan dan sedikit angin. Tapi saya cukup percaya ini untuk kebaikan perjalanan, dan acara sunset itupun batal. 

Dan betul saja apa yang dikhawatirkan Nakhoda, Sepanjang perjalanan kembali ke Benteng kapal dihantam ombak setinggi moncong kapal. Seharusnya perjalanan ditempuh selama 5 jam molor sampai 12 jam, karena Nakhoda harus berganti rute ke perairan dekat pulau yang seharusnya lebih teduh. Bahkan di rute alternatif ini pun ombak yang menghantam kapal tidak kunjung reda dan membuat beberapa dari kami mabuk laut. Semakin malam semakin menggila amuk ombak menghantam kapal. Namun tidak terbayangkan kondisi kapal ini jika terjebak badai yang lebih dahsyat, jika kami memutuskan tinggal lebih lama di Tinabo. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Tidak kurang satu apapun, kecuali isi perut yang terbuang karena mabuk laut.
Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau kata-kata Dieter Dengler bisa diterapkan untuk kegiatan fotografi. Sekilas tentang Dieter Dengler kawan, Dia pilot pesawat tempur angkatan laut US jaman perang vietnam. Dalam sebuah serangan, pesawatnya tertembak oleh vietkong. Beruntung dia berhasil melakukan pendaratan darurat. Tetapi keberuntungannya berhenti di situ. Gerilyawan vietkong berhasil menangkapnya, karena pak Dieter tidak mempersenjatai diri dengan lengkap dan tidak mempersiapkan alat keselamatan yang cukup. Setelah berhasil melarikan diri dari camp tahanan, pak Dieter berhasil diselamatkan oleh tim pembebasan sandra, dan kata-kata pertama dia begitu kembali ke satuannya adalah "ISI YANG KOSONG.. DAN KOSONGKAN YANG PENUH".

Saya tidak kenal dengan pak Dieter ini kawan, en juga tidak pernah ikut perang di Vietnam... :p Cerita ini dari film Rescue Dawn karya sutradara Warner Herzog, yang diadaptasi dari film dokumenter Little Dieter Needs To Fly tahun 1997. Sebuah film perang yang justru sarat dengan nilai-nilai solidaritas dan humanisme.. recomended untuk dinonton.

Tapi intinya bukan tentang kisah pak Dieter, tapi bagaimana aplikasi kata-kata pak Dieter dalam aktivitas fotografi. Penafsiran bebas saya adalah "kembalikan ke posisi seharusnya, dan prepare semua hal-hal detail sekalipun sepele, bisa jadi yang sepele itu yang menentukan sukses tidaknya tujuan. kita saya suka menganalogikan fotografer dengan tentara, saat kita berangkat untuk memotret sama seperti tentara yang pergi berperang. Karena kita sama-sama jarang diberi kesempatan kedua, untuk menembak suatu momen.

Sedikit berbagi pengalaman tidak enak, soal pentingnya menyiapkan pernak-pernik sebelum melakukan suatu pemotretan. Suatu saat saya harus mengambil beberapa foto untuk dokumentasi, namun terhambat hanya karena lupa mem-back up foto di memory card, berita buruknya saya tidak membawa memory card cadangan. Dengan sangat terpaksa saya harus menghapus beberapa foto setiap kali ingin memotret.  Menjadi tidak leluasa karena tidak bisa tembak renteng, men-shoot semua hal yang menarik.

Masih tentang memory card (benda seukuran kuku yang sering luput dari mata). Di suatu even saya ikut hunting dengan komunitas Batam Shutter dan Batam Photo Club (BPC). Merasa semua sudah lengkap, mantab hati saya meninggalkan rumah. Setibanya di spot hunting ada huruf "E" terbalik di monitor Nikon D90-ku.. it's empty.. soo bad. Ternyata ehh ternyata memory card masih setia berada dalam laptop, dan itu dirumah. berhubung tidak ada yang bisa dipinjami dengan berat hati harus balik kanan bubar !!

Masih pengalaman tidak enak, ini paling terbaru dan mungkin paling tidak enak. Niat hati ingin liburan bersama istri tercinta dan sengaja memilih Turi beach resort Batam yang katanya indah dengan pantai dihiasai batu-batu megalitikum dan dermaga yang romantis. Dengan penuh semangat dan memikirkan banyak sekali konsep foto yang ingin di-capture, portscape modelnya istri saya dengan backgroud pantai pasir putih, atau dermaga yang cukup jauh menjorok ke laut, atau cafe model pura yang berdiri di atas bebatuan besar. selain itu saya juga ingin mengambil foto-foto kami berdua di berbagai spot yang sangat menarik. dan saya juga ingin mengambil foto-foto slow speed di bebatuan dan dermaga serta bibir pantai. Kamera plus lensa siap, tripod, filter, batrai sudah siap, kit pembersih dan rain coat juga sudah siap. dan kali ini memory card tentu saja sudah siap dan sudah dikosongkan (berharap bisa mengambil buanyak foto). Rasa-rasanya sudah lengkap lahir bathin yah.. tapi ehh tapii.. charger tidak terbawa dan parahnya baterai zero power setelah dipake motret firework malam tahun baru... my bad... how pitty I am...

Sekedar share kawan.. supaya bisa jadi wasiat terutama kepada diri saya sendiri dan rekan-rekan fotografer pada umumnya (sudah kayak khatib sholat jumat aja nih... :p ). Smangat berkarya, Indonesia terlalu kaya dan indah untuk dilewatkan.. salam SoulinArt.
Postingan Lama Beranda

Latest Posts

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Tutorial Photoshop : False Color
  • Tutorial Memilih dan Menggunakan Filter Untuk Foto Landscape
  • Belajar Fotografi : Membuat Foto Siluet (Silhouette)
  • Tutorial Photoshop : Mengedit Warna dan Tone Sebuah Foto
  • Belajar Fotografi : Lebih Lanjut Tentang Komposisi
  • Wisata Natuna : Senoa, Pulau Ibu Hamil yang Mempesona
  • Tutorial Photoshop : Membuat Foto Montase (Montage)
  • Sebuah Liputan Lomba Dragon Boat Tanjungpinang (Photo Essay)
  • Warung Kopi Alias Kopitiam Favoritku

Top List

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Field Report : Landscape Pulau Senoa, Natuna
  • Belajar Fotografi : Melukis Dengan Cahaya
  • Coffee trip Toraja : Sebuah Ironi (bagian I)
  • Fotografer itu Sang Petualang Sejati

Search

Happy Daddy Story

Copyright 2010 Aftertaste Blog.
Blogger Templates Designed by AfterTaste