• Home
  • Photography
    • Landscape and Nature
    • People and Street
    • Portrait and Models
    • Belajar Fotografi
    • Tutorial Photoshop
  • Coffee Corner
  • Aftertaste Story
  • Gallery
    • Landscape and Nature
    • Human Interest
    • Black and White
    • Instagram
  • Travel
  • About

Aftertaste Blog

By Safruddin Alwi

Panorama Tanjung Aan - Safruddin Alwi
Trip singkat yang cuma sehari (daycation) di lombok ini memanfaatkan sela-sela waktu tugas. Saya sengaja mengambil jadwal flight paling telat untuk memanfaatkan waktu seharian menikmati lombok. Dengan waktu hanya sehari jelas tidak mungkin mengeksplore tempat-tempat paling eksotis di lombok, sebut saja gili-gili yang semakin populer tidak hanya di Indonesia. Jadi setelah menghabiskan waktu berbelanja oleh-oleh (menu wajib wisatawan Indonesia.. :D ) kami akan mengunjungi pantai tanjung aan di kawasan pantai kuta lombok tengah. Searah dengan tanjung aan kami juga akan mampir ke dusun sade, yang merupakan salah satu komunitas suku sasak tertua di lombok.
Paduan Pasir Putih dan Karang Tanjung Aan
Pantai Tanjung Aan
Enaknya traveling di lombok banyak pilihan obyek wisata yang relatif mudah diakses. Seperti pantai tanjung aan ini, memang masih ada bagian-bagian jalanan yang rusak, namun dengan waktu perjalanan selama satu jam  kita bisa sampai di lokasi. Rasanya hal-hal menarik yang biasanya dicari dari sebuah pantai ada disini. paduan pasir putih yang membentang panjang dan bagian lainnya yang tertutup karang menjadikannya sangat elok. Banyak wisatawann asing yang ke tanjung aan dengan membawa papan selancar, untuk menantang ombak di teluk yang terbilang cukup kuat. Pilihan menarik lain yang bisa dijelajahi adalah obyek wisata batu payung yang bisa diakses dengan perahu dari tanjung aan kurang lebih 15 menit. Lokasi yang terakhir ini, menjadi populer sejak dijadikan tempat syuting iklan rokok. Dikalangan pehobi fotografi batu payung juga menjadi salah satu obyek buruan di lombok.
Minusnya mungkin, dikarenakan lokasi pantai tanjung aan masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat menjadikannya kurang penataan. Banyak yang menyambi sebagai pedagang makanan dan souvenir. Mereka bisa berkali-kali menawarkan dagangannya, sekalipun sudah ditolak. Umumnya orang ke pantai untuk menikmati alamnya atau sekedar menyendiri, yang menjadi tidak nyaman jika harus disambi dengan berbelanja. Lagian umumnya kita tidak membawa dompet sebelum menyebur di pantai. Dalam bayangan saya, akan lebih nyaman jika lokasi jualan souvenir dan makanan dipusatkan disatu tempat. Kurang lebih seperti yang ada di Lagoi bintan. Jadi seselesainya mengeksplore pantai bisa dilanjut berbelanja bagi yang ingin. 
Dusun Sade, Suku Sasak - Safruddin Alwi
Dusun Sade, Suku Sasak
Lokasi dusun sade cukup dekat dari bandara. Dapat ditempuh dengan perjalanan kurang lebih 30 menit. Mereka adalah masyakarat suku sasak yang hidup berkelompok dalam satu guyub. Di dusun sade ada sekitar 150 rumah yang kesemuanya masih satu rumpun keluarga. Guide kami bercerita bahwa tradisi dan kelompok suku sasak di dusun sade ini sudah ada sejak tahun 1.079. Yap.. hampir seribu tahun yang lalu. Bentuk bangunan rumah masih mempertahankan budaya turun temurun tersebut. Dengan atap dari ilalang, dinding jelaja dan lanti tanah yang dimaintenance dengan (maaf) kotoran kerbau. Bahan tersebut konon mencegah lantai rumah yang berupa tanah tersebut tidak mudah retak. Bangunan rumah ini tidak cukup besar, hanya ada tiga bilik di dalamnya untuk dapur dan kamar tuan rumah, serta dua bilik kamar masing-masing untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Kamar tuan rumah yang digabung dengan dapur juga digunakan untuk proses persalinan. Kamar mandi dibangun terpisah, yang letaknya biasanya di depan rumah.
Pengrajin Songket Suku Sasak
Sekalipun banyak sekali warganya yang berjualan souvenir, mulai dari handycraft sampai dengan kain songket, mata pencaharian utama masyarakat di dusun sade adalah petani. Makanya sebagian besar pengrajin songket tersebut adalah wanita. Mulai dari proses pemintalan benang sampai dengan proses tenun menggunakan alat tradisional. Budaya yang masih dipertahankan meskipun sudah ada pasokan listrik di dusun ini. 
Melihat lokasi dusun sade dan perilaku masyarakatnya, saya cukup heran. Dalam bayangan saya sebelumnya mereka seperti keberadaan suku kajang di sulawesi selatan, yang cukup terisolasi secara geografis dan tertutup terhadap pendatang. Sehingga masyarakat suku kajang tersebut dapat menjaga garis trah kekeluargaan dalam kelompoknya, dengan tradisi pernikahan dan tatanan sosialnya yang masih murni. Namun di suku sasak dusun sade cukup unik, mereka lebih terbuka dengan masyarakat luar dan relatif mudah diakses dari segi geografis. Sebagai gambaran, jika kita ingin berkunjung ke suku Kajang di Sulsel kita harus mengenakan pakaian hitam/gelap dan meminta izin ke pemimpin suku. Tidak demikian dengan suku sasak dusun sade. Sekalipun lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat diluar kelompoknya yang memiliki perbedaan kultur, warganya tetap menjaga tradisi dan budayanya.
Masjid di Dusun Sade
Ditengah-tengah perkampungan berdiri sebuah masjid yang diberi nama nur syahada. Saya penasaran dari manakah syiar islam sampai ke dusun sade ini. Dengan melihat sejarahnya dimana dikawasan bali dan nusa tenggara agama hindu lebih dulu dikenal dan berkembang luas. Dan mengingat keberadaan suku sasak di dusun sade yang sudah hampir seribu tahun yang lalu, menjadi sangat menarik mengetahui bagaimana masyarakat disini berinteraksi dan menerima syiar islam. Sayangnya saya tidak memiliki referensi tentang hal tersebut. 
Bersama Guide kami
Waktu yang singkat tidak berarti sedikit yang bisa dinikmati dari traveling kali ini. Yang pasti Lombok destinasi wisata yang sangat menarik. I put it on my bucket list. Kepp traveling, keep happy. SALAM.
Obyek Wisata Rammang-Rammang Maros - Safruddin Alwi
Mari kita ngobrol fotografi lagi, lamanya tak terkira tidak ada tulisan tentang fotografi lagi di blog ini. Mubazir sebenarnya mengingat banyak sekali obyek foto alam dan tempat wisata yang "Seksi" untuk diabadikan di wilayah Sulawesi Selatan. Hambatannya selalu saja masalah waktu, satu-satunya sumber daya yang tidak ada gantinya. Berhubung si empunya blog lagi "kurang piknik", maka akhir-akhir ini lebih banyak postingan tentang dunia jejak rasa yang satu lagi. Kopi. 
Menyusuri Hutan Bakau Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Rammang-Rammang, obyek wisata yang baru mulai populer dalam satu atau dua tahun terakhir ini. Merujuk ke namanya, rammang-rammang sebenarnya nama sebuah dusun di Kabupaten Maros. Tentang maros yang dikenal masyarakat sebagai tempat wisatanya mungkin air terjun bantimurung dan gua pra-sejarah leang-leang. Lalu apa istimewanya rammang-ramang? jawabannya banyak, B-A-N-Y-A-K. Jarak tempuh dari kota makassar terbilang tidak terlalu jauh, satu jam-an dari makassar dengan mengendarai mobil. Genre-nya wisata alam, dengan level daya tarik bintang 3,5 ++. keindahan alam yang bisa dinikmati tidak hanya setelah sampai di dusun rammang-rammang itu sendiri. Perjalanan menunju ke obyek utamanya juga sangat layak untuk di nikmati. 
Warga Dusun Rammang-Rammang
Rammang-rammang sebenarnya dusun yang indah namun terisolir diantara hutan bakau dan tebing-tebing batu kars. Nilai minusnya selalu saja masalah infrastruktur dan fasilitas. Tidak ada akses darat langsung untuk menuju ke sana. Setelahnya perjalanan dengan mobil dari makassar, kita sampai di sebuah dermaga yang penuh dengan perahu mesin tempel. Nah, perahu inilah yang akan mengantarkan kita menuju rammang-rammang. Menyusuri hutan bakau dan tebing-tebing kars yang "menyembunyikan" rammang-rammang dari dunia luar. Keseruan perjalanan dengan perahu ini tidak kalah istimewa dibandingkan dengan obyek wisata utamanya itu sendiri. 

Dibandingkan obyek wisata pantai, belum banyak yang meng-eksplor keindahan hutan bakau di Indonesia. Padahal dengan penataan yang berkonsep dapat dibuat jalur-jalur petualangan yang menarik ditambah suguhan pemandangan yang fotografis. obyek wisata hutan bakau dapat dijadikan andalan pariwisata yang ramah lingkungan. Perjalanan dengan perahu bisa ditempuh selama 40 menit kurang lebih. Anda bisa meminta supir perahu untuk memperlambat atau memperlaju. Dengan perahu kita akan dibawa berkelok-kelok diantara mangrove dan menyusupi celah-celah karang sambil mengagumi tebing-tebing batu yang hijau. Sensasi dan atmosfer nya jelas akan memberikan pengalaman berbeda. Sesekali kita akan berjumpa dengan penduduk lokal yang memang selalu melewati jalur tersebut. Baik untuk memancing ataupun memang tujuannya keluar ke kota. Saran saya untuk perjalanan ini, jika anda berangkat siang hari jangan lupa membawa topi atau menyewanya di didermaga sebelum perjalanan dengan perahu ini. cuaca cukup panas dimusim kemarau.  
Tambak Ikan Rammang-Rammang
Sensasi di rammang-rammang nya sendiri tidak kalan dengan perjalanannya. Hanya ada beberapa rumah di Dusun ini, dan rata-rata mereka masih keluarga yang tinggal dan menetap di dusun rammang-rammang sejak dulu. Mata pencarian mereka adalah bertani dan tambak ikan. Petak-petak sawah dan tambak yang membentang diantara tebing-tebing batu yang menjulang ini lah yang jadi suguhan pemandangan yang indah. Terlebih saat bulir-bulir padi tersebut mulai menguning keemasan. Untuk sebuah obyek wisata ber-genre alam, maka semakin alami suguhan keindahannya akan semakin istimewa. Saya membayangkan keindahan tebing-tebing batu di rammang-rammang suatu saat bisa disandingkan dengan Li river china. Bahkan rammang-rammang bisa memberikan pengalaman lebih yang mungkin sulit ditemukan di tempat lain.

Menyusuri petak-petak sawah menunju kaki tebing-tebing batu tersebut. Tersimpan rahasia pra-sejarah. Di spot-spot tertentu kita bisa melihat lukisan-lukisan pra-sejarang di dinding-dinding batu yang sama seperti di gua leang-leang. Untuk yang terakhir saya sebutkan sudah ada beberapa penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa lukisan-lukisan pra sejarah tersebut berumur ribuat tahun sebelum masehi. bahkan diungkap umurnya lebih tua dari lukisan gua yang ditemukan di spanyol. Sayangnya saya tidak menemukan adanya referensi yang menyatakan pernah meneliti lukisan gua di rammang-rammang. Lukisan ini berbentuk telapak tangan sebelah kanan, yang pasti ukurannya lebih besar dari tangan saya. Lukisan telapak tangan biasanya dikaitkan dengan ritual potong jari sebagai bentuk berkabung di budaya masyarakat pra-sejarah. Wallahualam, berbicara kisah pra-sejarah akan selalu lebih banyak untold story nya.
Lukisan pra-sejarang Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Saya tidak cukup paham dan ahli terkait lukisan pra-sejarah tersebut jadi sekedar menikmati keunikan dan untold story dibalik itu semua. Bagian lucunya, permukan tebing-tebing batu tersebut diantaranya membentuk permukaan yang unik. Salah satunya adalah bentuk muka yang sangat besar dan menyeramkan. Masyarakat setempat menamainya batu kingkong. Bentuk wajah tersebut diidentikkan dengan wajah seekor kingkong. Pendapat saya, bentuk tersebut cukup mirip dengan wajah kingkon. Yang pasti bukan wajah saya haha.
Batu Kingkong Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Betul sekali memang, jika disebutkan rammang-rammang belum cukup wah !! masih sangat banyak yang perlu di benahi. Sewaktu mengunjungi rammang-rammang saya bertemu dengan beberapa rombongan wisatawan asing. sayang sekali fasilitas untuk menjamu para wisatawan masih minim. hanya ada satu dua bale-bale yang bisa dipakai untuk beristirahat. Tidak ada pilihan tempat makan selain warung yang menyediakan kelapa muda dan pop mie. Jadi sebaiknya sebelum berkunjung siapkan bekal, terutama jika anda mengajak anak-anak. Saya memimpikan rammang-rammang dengan segala keunikannya akan menjadi obyek wisata populer tidak hanya di Indonesia. Jalur perjalanan diantara bakau dan mangrove bisa sangat menarik dengan melewati tepian tebing-tebing dan menyusuri gua-gua yang terbentuk karena abrasi.
Refleksi Indang Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Saya juga membayangkan wisatawan dibuat kagum dengan rahasia cerita pra-sejarah yang pastinya akan menjadi petualangan menarik. Seharusnya rumah-rumah disini dibangun dengan model rumah adat yang menjual sisi etnik arsitektur rumah khas sulawesi. Kesemuanya jika dipadu dengan keelokan alam yang sudah cantik dari sononya ini akan menjadi sangat luar biasa. 


Sekian dulu, semoga bisa menjadi panduan kawan-kawan mengenal alam indonesia. SALAM.
Pantai Pa'badillang by Safruddin Alwi
Tempat pertama yang saya kunjungi setelah pindah domisili ke Makassar adalah adalah Selayar, bahkan sebelum saya sempat ke pantai losari. Selayar salah satu kabupaten terjauh dari Kota Makassar, lebih-lebih lagi dikarenakan kondisi geografisnya yang kepulauan dan terpisah dari pulau utama Sulawesi. Jika kawan-kawan cukup akrab dengan bentuk pulau Sulawesi yang mirip huruf "K" Selayar ada di kaki kanan pulau Sulawesi. Bentuk kepulauan selayar menyebar cukup luas ke arah Sulawesi tenggara dan ke arah laut banda. Kondisi geografis tersebut memberi "tantangan" tersendiri untuk sampai ke selayar. Kita perlu bergonta-ganti moda transportasi untuk sampai ke Benteng, Ibu kota Selayar. Tentunya sajian pemandangannya juga beragam.
Menikmati perjalanan
Berangkat dari Makassar kita bisa menggunakan bus atau travel minibus sekelas Innova. Kita harus mencapai pelabuhan Tanjung Bira jika ingin menyeberang ke Selayar. perjalanan tersebut ditempuh selama 4 s.d 5 jam dari Makassar. Rata-rata kendaraan yang digunakan cukup baik, tentunya terkecuali untuk kelas low budget. Ada feri yang cukup besar dan bolak-balik 2 kali sehari untuk menjembatani Tanjung Bira dan Selayar. Pelabuhan tanjung bira tidak hanya digunakan untuk feri penyeberangan, namun juga sebagai pelabuhan kapal-kapal pinisi. Ya, Tanjung Bira sudah lama dikenal sebagai tempat pembuatan kapal pinisi. Feri penyeberangan sudah siaga ketika kami sampai di bira. Di dalamnya berjejalnya beraneka macam karya manusia yang hidup dan yang tidak hidup.

Di atas perahu
Tidak mewah mungkin tapi cukup representatif bagi masyarakat yang membutuhkan transportasi penyeberangan. Rute feri penyeberangan ini melewati beberapa pulau kecil antara selayar dan bira. Pemandangan yang tersaji cukup menghibur perjalanan, dan ada kantin mini untuk mengisi perut jika lapar. Sebelum kapal berangkat cukup banyak pedagang yang naik ke kapal menjajakan. Satu yang tidak enak di waktu-waktu tertentu cuaca tidak kondusif untuk dinikmati. Berikut beberapa foto snapshot sepanjang perjalan menuju selayar dan perjalanan mengelilingi beberapa pulau hinterland di selayar.
What I see
Selayar secara keseluruhan tidak jauh berbeda dengan Kepulauan Riau, karena secara geografis sama-sama berbentuk kepulauan dengan pantai-pantai yang indah dan spot-spot snorkling menarik untuk mengintip dunia bawah lautnya. Namun tentu saja alam Selayar punya sisi unik yang berbeda dan budaya masyarakat setempat memberi warna yang berbeda. referensi baru untuk dikunjungi.
Dunia di bawah pasir by Safruddin Alwi
Pulau Selayar berbentuk memanjang dari utara ke selatan. Karenanya pantai-pantai di selayar menjadi tempat yang menarik untuk menikmati sunset dan sunrise. Namun beberapa spot pantai aksesnya masih sulit. Berikut shortlist untuk dikunjungi jika anda sedang berada di selayar. Pantai Pa'badillang, Jika kita mengunjungi selayar lewat jalur darat maka kita akan sampai di pelabuhan feri pamatata. Berjarak kurang dari 1 km kita bisa mencapai pantai Pa'badillang. Di pantai ini ada bagian pantai berpasir putih dan bagian pantai karang yang cukup tinggi. Bentang pantai pasirnya terbilang panjang dengan kejernihan air laut yang masih terjaga.
Tenggelam di antara sampah
Buruknya di musim barat, sekitar bulan desember s.d februari banyak tumpukan sampah dipantai ini. Mungkin saat kita berada di tengah laut kita menganggap sepele untuk setiap potongan sampah kecil yang kita buang. Namun dengan banyaknya kapal yang berlayar dan arus laut yang mengarah ke sisi pantai ini pada musim barat. Kita akan melihat dampak sampah yang kita anggap sepele saat berlayar dan membuangnya di tengah laut. Miris sekali, padahal pantai ini jadi habitat alami biota laut yang banyak bersembunyi di balik pasir.
Liang Kareta by Safruddin Alwi
Liang kareta, sekilas dari namanya sebagian dari kita mungkin akan mengasosiasikan dengan bentuk karang di pantai ini yang berbentuk liang (lubang) karena abrasi. Namun apa hubungannya dengan kareta (kereta) ?? Singkat cerita nama Liang Kareta tidak ada hubungannya sama sekali dengan liang maupun kereta. Nama tersebut adalah nama seorang penduduk yang melegenda di tempat ini. Liang kareta terletak di pulau terpisah. kira-kira butuh perjalanan 15 menit dengan Joloro (perahu motor) untuk sampai ke Liang kareta dari pelabuhan bontoharu. Namun karena perjalanan tersebut melalui perairan antar pulau Saya sangat yakin tidak akan membosankan. Pemandangan sepanjang perjalanann  sangat indah. Tidak berhenti disitu saja. sesampainya di Liang kareta kita akan disuguhkan alam yang istimewa. bentuk karang yang unik menyerupai gua karena abrasi. Air lautnya sangat jernih ditambah terumbu karang yang menarik untuk dijelajahi.
Pulau Tinabo by Safruddin Alwi
Permata bagi Selayar adalah taman nasional Takabonerate. Takabonerate sendiri sebenarnya sebuah nama kecamatan yang wilayahnya terdiri dari gugusan pulau-pulau. Nah perairan antara pulau-pulau kecil tersebut menjadi sarang terumbu karang atol terbesar. Pulau Tinabo menjadi base pengelolaan taman nasional tersebut. Tinabo tidak terlalu luas, hanya dengan berjalan kaki 15 s.d 20 menit kita sudah bisa sampai dari ujung pulau ke ujung yang lain lagi. Bentuk pulau memiliki teluk-teluk kecil yang pas untuk berenang dan menikmati karang. Kejutannya anak-anak ikan hiu sering menepi ke air dangkal, jadi para pengunjung bisa berenang dengan anak-anak hiu tersebut. Cukup dengan membawa umpan beberapa potongan ikan.
Pantai Pulau Tinabo by Safruddin Alwi
Namun butuh perjuangan lebih untuk sampai ke pulau Tinabo ini. Dari selayar kita perlu menggunakan kapal untuk perjalanan 5-6 jam untuk sampai ke Takabonerate. Dari Takabonerate kita masih perlu lanjut perjalanan dengan kapal 2 jam. Perlu diperhatikan pulau Tinabo hanya dihuni petugas taman nasional dari Kementerian Kehutanan. Tidak banyak supply kebutuhan sehari-hari di Tinabo, jadi sebaiknya persiapkan segala sesuatunya di Selayar atau Takabonerate.
Nekara dan Jangkar Bersejarah by Safruddin Alwi
Kembali ke Selayar, yang tidak hanya menawarkan alamnya yang indah. Selayar cukup kaya dengan sejarah. Posisinya di jalur pelayaran jaman dahulu kala tidak hanya oleh kapal-kapal dari nusantara. Karena posisinya strategis penajajah belanda dan portugis juga sempat menancapkan kekuasaannya di Selayar. Kita masih bisa melihat sisa-sisa kejayaan para penjajah di Selayar. Juga beberapa persenjataan perang untuk melawat penjajah tersebut masih bisa kita jumpai, meriam-meriam berumur ratusan tahun. Di antara peninggalan sejarah yang paling terkenal di Selayar adalah Nekara perunggu dan jangkar tua. Diperkirakan nekara tersebut merupakan peninggalan dari jaman perunggu di asia kira-kira 1000 tahun SM. Nekara tersebut kemudian ditemukan oleh petani pada tahun 1686. Sejak masa itu nekara tersebut disimpan di sebuah rumah di Bontoharu. Uniknya asal usul nekara tersebut belum diketahui secara pasti.
Jangkar tua yang ada di desa Padang bontoharu merupakan peninggalan kapal saudagar cina bernama Gowa Liong Hui sekitar abad 17 s.d 18. Kapal milik Gowa tersebut sangat besar sehingga membutuhkan jangkar yang juga sangat besar dengan panjang lebih dari 2 meter. Kapal tersebut merupakan kapal dagang yang sedang singgah di desa padang untuk mengisi air, namun kemudian mengalami kerusakan. Jangkar dan meriam kapal tersebut kemudian diambil oleh warga. Tak terbayangkan sebelumnya jika pulau kecil bernama Selayar memiliki peninggalan sejarah yang sudah sangat tua ratusan bahkan mungkin ribuan tahun.
Pantai Karang di Selayar by Safruddin Alwi
Saat sore hari menjelang malam, saya menyarankan kawan traveler ke bagian pantai karang pa'badillang. Tepian pantai selayar tidak semua dihuni pasir putih yang melankolik. di beberapa sisi batu karang yang cadas dan curam berbatasan langsung dengan air laut. Jika dikelola dengan profesional tempat-tempat tersebut tidak akan kalah indah dibanding pantai-pantai karang di bali. Di pantai pa'badillang terdapat teluk yang berbentuk hampir bulat utuh dikelilingi tebing karang dengan suguhan pemandangan yang pasti berkesan saat sunset ataupun sunrise.
Sunset di Selayar by Safruddin Alwi
Sekian coretan perjalanan saya kali ini.. Salam :)
Tongkonan Dengan Atap Batu yang Berusia Ratusan Tahun
Toraja menempati wilayah pegunungan yang subur di bagian utara Sulawesi Selatan, yang secara administratif sekarang dimekarkan menjadi Tana Toraja dan Toraja Utara. Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, Toraja sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda sebagai sumber hasil bumi. Lereng-lereng gunung di Toraja sebagian besar di sulap menjadi persawahan yang hijau nan subur. Belum lagi jika kita ingin membahas produk unggulan perkebunannya, Kopi Toraja. Saya yang pecinta kopi seperti anak kecil yang tersesat di toko permen. Sejak hari pertama daftar oleh-oleh posisi satu dan dua sudah diisi dengan kopi arabika dan robusta dari Toraja. Orang bugis menyebutnya To Riaja, masyarakat yang tinggal dipegunungan. Kurang lebih mungkin seperti itu asal usul kata Toraja, sekalipun ada versi lain dari cerita ini. Budaya dan tradisi masyarakat toraja merunut sejarah yang panjang ke belakang bahkan sejak jaman batu menhir dan animisme. Kali ini saya akan membagi sensasi berwisata yang tidak biasa di Toraja, Sulawesi Selatan. Menengok situs arkeologi dan peninggalan sejarah yang tidak tersimpan di museum namun tetap menjadi bagian dari keseharian masyarakat, dan memotret keindahan alam serta budaya Toraja.
Tanah Subur To Riaja
Beberapa tempat wisata sudah cukup populer dan menjadi daftar wajib untuk dikunjungi selama di Toraja. Sebut saja jejeran tongkonan, kuburan batu dan pusat kerajinan Ketek Kesu' yang berada di Rantepao Toraja Utara. Dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dari Kota Makale. Secara umum tempat ini cukup representatif dengan parkiran yang cukup luas dan tersedia toko-toko souvenir yang menjual ukiran serta kerajinan lainnya sebagai buah tangan. Daya tarik utama dari Ketek Kesu' adalah barisan rumah tongkonan yang masih asli. Tongkonan yang lebih modern dibuat dengan atap spandek dan beberapa sudah menggunakan rangka beton dan dinding bata. Namun di sini rumah tongkonan dibuat dengan atap bambu yang disusun membentuk kurva serta rangka yang seluruhnya terbuat dari kayu yang disampung dengan pasak. Tradisi di Toraja tongkonan dibuat harus menghadap utara dan terdiri dari dua bagian, tongkonan yang berukuran besar sebagai rumah tinggal dan tongkonan yang lebih kecil digunakan sebagai lumbung padi.
Ketek Kesu'
Tempat lainnya yang juga sudah cukup populer adalah Londa, yang relatif lebih dekat dari Malake. Londa adalah tempat pemakaman. Budaya Toraja sangat lekat dengan upacara pemakaman dan tradisi memakamkan jenazah dengan menempatkan sang jenazah dalam gua atau tebing batu yang dipahat membentuk liang. Ada sedikit pergeseran budaya. Mungkin karena tidak mudah mendapatkankan tempat di gua atau membuat liang di tebing batu untuk menempatkan jenazah, saat ini sebagian masyarakat membuat semacam bangunan rumah sebagai tempat persemayaman jenazah keluarga. Di Londa masih terdapat gua alami dan tebing batu yang digunakan untuk menyimpan jenazah. Jasad yang mungkin sudah berusia ratusan tahun hingga yang masih baru ada di gua londa ini. Saat berziarah masyarakat setempat terbiasa menyimpan uang receh dan rokok di dekat tulang belulang jenazah. Sayang sekali beberapa tempat jenazah telah rusak dan tulang belulang jenazah yang mungkin sudah tidak dikenali digabung disatu tempat secara acak.
Kuburan Batu
Gua Londa
Di suatu waktu saya melakukan perjalanan di daerah Rembon dan saya mendapat cerita dari masyarakat bahwa ada satu rumah tongkonan di Toraja yang sudah berusia ratusan tahun. Uniknya lagi tidak seperti tongkonan pada umumnya yang menggunakan atap dari bambu atau yang lebih modern dari spandek/seng rumah tongkonan tersebut menggunakan atap batu. Yap, batu-batu cadas yang dipahat membentuk lempengan kemudan diberi lubang dan dirajut dengan rotan membentuk atap. Seperti kebanggaan masyarakat Toraja pada umumnya, setelah melakukan rambu solo (upacara kematian) tanduk-tanduk kerbau yang dikorbankan dalam acara tersebut dijejer dekat pintu masuk rumah. Di tongkonan tua ini juga ada puluhan tanduk kerbau yang sudah kering dan membatu dijejer dekat pintu masuk tongkonan. Saya sempat bertemu dengan pemilik rumah tongkonan batu ini, menurutnya rumah tongkonan ini dibangun oleh leluhurnya dan sudah berusia ratusan tahun. Sejumlah peneliti arkeologi pernah datang untuk meneliti tongkonan tersebut. Bahkan beberapa peneliti dari luar negeri. 
Penjual Kerbau
Tedong Bonga, Kerbau Paling Mahal Di Dunia
Kerbau atau biasa disebut tedong menjadi bagian penting bagi budaya Toraja. Selain karena latar belakang usaha masyarakat setempat yang beternak dan bertani yang sudah pasti menggunakan kerbau, Dalam sejumlah ritual juga kerbau menjadi simbol budaya. Saking pentingnya sampai ada pasar yang khusus untuk jual beli kerbau. Uniknya pasar kebaru ini hanya ada sekali dalam seminggu dengan hari yang terus berganti dan tempat yang berganti-ganti pula dengan cara bergilir. Pasar yang terbilang luas akan penuh dengan kerbau, hanya ada kerbau yang diperdagangkan. Harga kerbau sangat bervariasi. Tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya kerbau, tapi juga sampai pada kriteria-kriteria tertentu yang tidak umum digunakan. Terutama kerbau yang akan digunakan dalam upacara adat. Pemuka adat akan melihat baik-baik kriteria sebuah kerbau: tanduk, warna kulit, warna mata, bulu ekor dan detail-detail lainnya sebelum menentukan harga kerbau. Kisaran harga kerbau mulai dari 15 juta sampai dengan 1 Milyar. Saya tidak salah sebut, kerbau tertentu ada yang dihargai 1 milyar, setara dengan 4 unit kijang innova tipe tertinggi. Yang menjadi primadona tentu saja kerbau belang yang disebut Tedong bonga. Seekor tedong bonga jantan yang berukuran jumbo, bertanduk putih, dengan corak kulit dan mata serta ekor yang bagus akan dihargai sangat tinggi. Bahkan bisa mencapai 1 milyar.
Adu Kerbau
Upacara adat yang paling utama di Toraja bukan upacara pernikahan atau lahiran seperti didaerah lain. Upacara ada yang utama dalah upacara kematian rambusolo. Jika seorang anggota keluarga meninggal, maka jenazah tersebut akan diawetkan dan disimpan di dalam rumah selama beberapa bulan bahkan tahun. Sambil menunggu kesiapan keluarga untuk menggelar rambusolo. Ini adalah upacara besar yang membutuhkan waktu untuk persiapan dan dana yang tidak sedikit. Salah satunya untuk membeli kerbau dan babi untuk dipotong sebagai bagian dari upacara rambusolo. Namun disinilah letak ikatan tradisinya. Jika seorang anggota keluarga meninggal dan sang anak menyelenggarakan rambusolo, keluarga-keluarga jauh sang anak akan menyumbang kerbau dan babi untuk dipotong di upacara rambusolo. Dan nantinya sang anak punya kewajiban moral untuk ikut membantu menyumbang kerbau dan babi bagi keluarga yang dahulu pernah menyumbang kepadanya. Hanya kerbau jantan yang digunakan dalam rambusolo. Dalam suatu upacara kerbau dan babi yang dipotong bisa berjumlah belasan bahkan puluhan. Sebelum kerbau tersebut digunakan dalam upacara, Ada ritual adu kerbau untuk hiburan bagi sanak keluarga yang hadir di upacara rambusolo.
Kebersamaan dalam Rambu Solo
Sekalipun intinya rambusolo adalah upacara kematian, namun saya melihatnya sebagai pusat tradisi. Masyarakat Toraja sebenarnya sangat plural. Mereka sebagian besar beragama kristen dan masih ada yang menganut kepercayaan To Allo serta sebagian kecil muslim. Namun dalam upacara rambusolo sekat-sekat agama tersebut bukan suatu hambatan. Di upacara tersebut penyelenggara upacara membuat tempat khusus bagi tamu yang muslim dan hanya menyajikan makanan halal bagi mereka. Ini untuk menjaga keyakinan saudara yang muslim dan menghindari mereka menyantap yang haram. Tanpa membeda-bedakan atribut agama semuanya mengambil bagian dan membantu penyelenggaraan upacara.
Berkabung
Masyarakat toraja cukup banyak yg merantau keluar daerah. Upacara rambusolo menjadi ajang berkumpul dan saling mengenal kembali sanak saudara. Tua dan muda berkumpul dalam suasana duka dan berkabung. Berwisata di Toraja tidak hanya untuk mengenal alam yang indah. Ada banyak warna budaya dan sejarah yang turut menjadi karakter Indonesia. Yuk kenali Indonesiamu.

SALAM,
Lagi-lagi Lagoi - Safruddin Alwi
2014, Tahun baru Tugas Baru Tempat baru.. mengakhiri penantian di SoulinArt, Saya mengawalinya di tahun baru ini. Setelah hampir 7 tahun mendiami kota Batam dan menjelajah tempat-tempat istimewa se-antero Kepulauan Riau, Saya dan istri berpindah domisili ke Kota Makassar. Tugas sebagai auditor yang membawa saya kembali ke kampung halaman tercinta. Karenanya dengan berat hati saya meninggalkan Kepri dan semua keindahan, momen dan petualangan yang berkesannya. Di sisi lain dengan senang hati saya menyambut keindahan, momen dan petualangan baru nantinya.
Bintan selalu berkesan dengan Lagoi, resort mewah yang sudah banyak dikunjungi wisatawan asing ini telah berkali-kali saya kunjungi tanpa sedikitpun merasa jenuh dengan daya tariknya. Sekali Saya mengunjunginya bersama istri saya tercinta. Tentunya liburan itu menjadi salah satu kenangan kami di Kepri. Alamnya yang indah resortnya yang mewah seakan menjadi satu paket komplit memori untuk dibawa pulang.
Nice Pool
Di lain waktu, saya dan istri tercinta menikmati keindahan Turi Beach Resort Batam sekaligus menikmati suasana tahun baru 2011. I think it's a very romantic place for honey moon. Resort bintang 5 ini bernuansa bali, ada beberapa patung batu granit etnik bali di sekitar kolam renang yang dikemas sangat hijau. Suasana pantai yang cantik, salah satu yang paling cantik  di Batam. Having holiday in this place with my wife it's really memorable.
Turi's Bridge
Sejak pertama kali publish kira-kira 4 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010, Blog ini sebagian besar dijejali dengan jejak-jejak traveling dan hasil hunting di Batam, Bintan, Natuna, Anambas dan tempat-tempat lainnya yang terbidik kamera. Beberapa tempat tersebut menjadi favorit saya dan mengundang untuk kembali dan kembali lagi ke tempat tersebut. Mengabadikan tempat yang sama dengan momen-momen berbeda. Di kesempatan lainnya saya mengunjungi beberapa tempat tanpa rencana dan banyak informasi yang diperoleh sebelumnya. Namun pada akhirnya memberikan pengalaman baru untuk diingat.
Uniknya Natuna - Safruddin Alwi
Jika harus memilih satu tempat favorit, akan cukup mudah untuk memilih. Natuna. Pilihan favorit saya adalah Natuna. Kurang populer memang tetapi mengenal sesuatu yang belum banyak diketahui orang lain  memberikan perasaan "menang" yang sulit untuk disangkal kesenangannya. Bahkan bisa dibilang awal saya senang berfotografi dan traveling berawal dari terpesona oleh Natuna saat petama kali berkesempatan ke gugusan pulau di perbatasan ini 6 tahun yang lalu. Sering saya menyebutnya "surga di tepian nusantara" karena Natuna indah dengan cara yang unik. Tidak biasa. Saya tengah menyiapkan proyek tulisan untuk menggambarkan Natuna secara komplit dari hasil berkali-kali kunjungan. Meskipun sudah ada beberapa tulisan tentang Natuna di blog ini, rasanya medianya tidak cukup luas untuk menceritakan semua bagian menariknya.
Secret Place - Safruddin Alwi
Tidak hanya tentang alam yang membekas di memori selama di Kepri. Mengenal orang-orang dan budaya melayu yang menjadi identitas mereka adalah bagian penting lainnya. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Batam, rasanya tidak terlalu aneh dan asing. Mereka masyarakat yang sangat welcome, tidak sulit untuk membaur dengan masyarakat di sini. Tidak hanya di kota batam, di banyak tempat yang saya kunjungi keramahan masyarakat selalu jadi sambutan hangat. Mereka bukan orang yang enggan membantu, budaya tolong menolong mereka cukup kental. Identitas budaya melayu pesisir sangat mencerminkan karakter masyarakat di Kepri.
Tolong Menolong
Terkadang saya cukup jauh berjalan sampai ke tempat-tempat yang cukup pelosok dan belum banyak mendapatkan akses. Banyak kebersahajaan di tengah kesederhanaan yang saya lihat. Kekurangan dan keterbatasan yang bagian kecil masyarakat tersebut hadapi sehari-hari tidak menggerus prinsip-prinsip hidup yang sebenarnya justru sangat baik untuk ditiru. Hal-hal seperti ini menginspirasi saya untuk membuat arsip tulisan baru di SoulinArt. Entah apa namanya, nanti akan ada "pojok motivasi" yang ingin saya bagikan lewat blog. Sedikit banyaknya semoga bisa menjadi "bahan bakar positif" untuk dibaca ditengah-tengah penelusuran netizen.
Hanya Berlima
Batam sudah menjadi "rumah" kami selama hidup di Kepri sejak tahun 2007. Batam seperti kotak rubik dengan warna-warni yang berbeda di masing-masing sisi dan bagian kecilnya. Gambarannya dalam ingatan saya. Rumit seperti kota-kota industri lainnya yang sedang berkembang. Kompleks. Di satu sisi kota batam ini selalu sibuk berkembang menjalankan salah satu roda ekonomi paling kencang di Indonesia, di sisi lainnya budaya melayu kuat menjaga tradisinya.
Warna-Warni by Safruddin Alwi

Meniru kebiasaan masyarakat melayu untuk menutup sesuatu dengan pantun..... :)
Turi beach resort batam
Good Morning from Turi... Photographer : Safruddin Alwi
Ke Tanjungpinang singgah ke Penyengat
Balik ke Batam tak lupa ke Barelang
Alam Kepri sungguh elok sangat
Sesuatu yang indah untuk dikenang

SALAM,
Masjid Pulau Penyengat - By Safruddin Alwi
Pulau penyengat merupakan pulau kecil di sebelah barat Kota Tanjungpinang dengan luas sektiar 2 KM persegi. Bayangkan jika dibanding dengan pulau batam yang seluas 415 KM persegi. Namun siapa yang mengira jika pulau kecil ini menyimpan sejarah panjang pemerintahan kerajaan melayu. Pulau penyengat selalu diidentikkan dengan keberadaan masjid raya sultan riau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan masjid pulau penyengat. Masjid ini didirikan tahun 1832 M, atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII.
Bentor, transportasi khas pulau penyengat
Pulau penyengat yang tak seberapa luas ini telah menjadi ikon wisata tidak hanya di Kota Tanjungpinang namun juga Kepulauan Riau. Bahkan keberadaannya tengah diusulkan menjadi salah satu world heritage UNESCO. Keindahan pulau ini dapat dinikmati dengan berkeliling menggunakan becak motor yang dikelola masyarakat setempat. Tak seberapa jauh dari pelabuhan telah berjejer becak motor yang dapat anda sewa untuk mengantarkan anda berkeliling. Start dari sekitaran masjid penyengat anda bisa diantarkan ke situs makam keluarga kerajaan, bangunan ex-kantor pemerintahan, benteng dan salah satu rumah adat melayu yang telah disulap menjadi museum untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejarah.
Arsitektur Masjid Penyengat
Masjid penyengat di bangun di atas tanah yang cukup tinggi. Sepanjang sisi masjid dikelilingi tembok yang cukup tinggi sehingga menyerupai benteng. Di depan masjid terdapat unit bangunan yang terpisah-pisah, masing-masing dalam posisi simetris. Banguan sejenis bale di dua sisi halaman masjid bergaya arsitektur melayu. berbentuk rumah panggung tanpa dinding dengan ornamen dan ukiran kayu. Di sisi kiri dan kanan masjid, ada bangunan berdinding beratap limasan batu. Masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut sotoh. Tempat ini berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para ulama dan cendekiawan. Masjid memiliki 4 buah menara, posisinya berada di setiap sudut ruang utama sembahyang, dengan bentuk yang hampir sama. Puncak menara berbentuk sangat runcing seperti pensil. Tampaknya menara ini dipengaruhi oleh menara-menara masjid di Turki, yang sebenarnya berasal dari gaya arsitektur Bizantium.
Peninggalan Sejarah di Pulau Penyengat
Ruang dalam masjid sebenarnya tidak cukup luas. Hanya dapat menampung kira-kira sepuluh shaf jamaah sholat. Nuansa interior masjid penuh dengan warna putih dengan hiasan warna hijau dan kuning emas. Terdapat mimbar masjid yang terbuat dari ukiran kayu. Dibagian depan masjid tersimpan kitab-kitab kuno. Dahulu merupakan koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Dalam etalase kaca juga terdapat mushaf al quran yang di tulis tangan dan tampak sudah sangat tua. Juga terdapat tanah yang menurut masyarakat setempan merupakan tanah dari kota mekah.
Museum dan rumah adat melayu
Jika anda sempat berkeliling sampai ke bagian belakang pulau, anda akan menemukan sebuah rumah adat melayu yang telah disulap menjadi museum. Di sini pemandangan cukup indah dan tepat berhadapan dengan pelantar yang jauh menjorok kelaut. Ruangan dalam museum di tata menyerupai kantor pemerintahan yang dahulu ada di Pulau penyengat ini. Yang sangat menarik perhatian adalah koleksi foto hitam putih kegiatan pemerintahan kerajaan melayu. Mulai dari potret raja-raja sampai dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah kerajaan. Bangunan ini berbentuk rumah panggung yang cukup besar. Di bawah rumah terdapat sumur yang meskipun letaknya tidak cukup jauh dari laut, sumur tersebut memiliki rasa air yang tawar.
Peziarah
Mengulik sejarah dari pulau penyengat ini menjadi semakin menarik. Kisahnya sendiri tidak bisa dipisahkan dari seorang tokoh perempuan Engku Putri Hamidah. Konon katanya pulau penyengat ini merupakan mahar pernikahan Sultan Mahmud Marhum untuk meminang Engku Putri sebagai permaisuri. Di masa Engku Putri ini pulau penyengat menjadi pusat pemerintahan kerajaan melayu Riau-Lingga bahkan sampai ke daerah yang ditaklukan yaitu Johor dan Pahang yang kini menjadi negara bagian Malaysia. Engku putri dimakamkan di pulau penyengat bersama dengan istri-istri lain dari Sultan serta beberapa keluarga kerajaan. Letaknya cukup dekat dari kompleks masjid penyengat. Kompleks makam yang ada di pulau penyengat cukup banyak. Namun makam Engku Putri selalu menjadi kompleks makam yang paling ramai dikunjungi peziarah.
Wisata ke pulau penyengat
How to go there? secara administratif pulau penyengat merupakan wilayah kota Tanjungpinang. Dari Batam kita bisa menggunakan feri penyeberangan selama 1 jam ke Tanjungpinang. Dari pelabuhan feri Tanjungpinang kita harus keluar dan masuk ke area pelabuhan pompong karena tidak ada akses langsung dari pelabuhan feri. Dari Tanjungpinang pulau penyengat hanya berjarak kurang dari 5 KM dan dapat ditempung selama 15 menit dengan perahu pompong.
Perahu tradisional pompong
Sekian cerita tentang trip saya ke pulau penyengat semoga cukup informatif untuk dijadikan referensi.. salam and happy eid al adha.. :)
Postingan Lama Beranda

Latest Posts

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Tutorial Photoshop : False Color
  • Tutorial Memilih dan Menggunakan Filter Untuk Foto Landscape
  • Belajar Fotografi : Membuat Foto Siluet (Silhouette)
  • Tutorial Photoshop : Mengedit Warna dan Tone Sebuah Foto
  • Belajar Fotografi : Lebih Lanjut Tentang Komposisi
  • Wisata Natuna : Senoa, Pulau Ibu Hamil yang Mempesona
  • Tutorial Photoshop : Membuat Foto Montase (Montage)
  • Sebuah Liputan Lomba Dragon Boat Tanjungpinang (Photo Essay)
  • Warung Kopi Alias Kopitiam Favoritku

Top List

  • Belajar Fotografi : Melukis Dengan Cahaya
  • Pesona Pantai Kawasan Wisata Lagoi
  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Singkat Cerita Tentang Danau Toba
  • Belajar Fotografi : Komposisi Foto Landscape

Search

Happy Daddy Story

Copyright 2010 Aftertaste Blog.
Blogger Templates Designed by AfterTaste