• Home
  • Photography
    • Landscape and Nature
    • People and Street
    • Portrait and Models
    • Belajar Fotografi
    • Tutorial Photoshop
  • Coffee Corner
  • Aftertaste Story
  • Gallery
    • Landscape and Nature
    • Human Interest
    • Black and White
    • Instagram
  • Travel
  • About

Aftertaste Blog

By Safruddin Alwi

Lolai, Negeri Di Atas Awan di Toraja - Safruddin Alwi
Toraja selalu indah untuk diabadikan, meskipun kali ini -Oktober sampai dengan November- hujan deras lagi rajin-rajin nya menyambangi toraja. Acara rambu solo dan rambu tika yang jadi komoditi wisata juga belum digelar. Dikarenakan umumnya diadakannya di bulan Desember, memanfaatkan momen libur natal. Namun sekedar informasi, obyek wisata yang sedang populer di toraja sempat saya sambangi. Lolai, atau biasa disebut negeri di atas awan. Bahkan juga menarik minat bapak Wapres JK, yang juga berkunjung ke Lolai. Lolai sendiri adalah nama kampung yang memang berada di lereng perbukitan. Menjelang dini hari pergerakan comulunimbus mempercantik sunrise untuk disaksikan dari Lolai.  
Kebun Kopi di Malimbong Balepe Tana Toraja
Kali ini masih tentang komoditi perkebunan dari toraja. Melengkapi cerita coffee trip saya sebelumnya di sini. Baru kali ini saya berkunjung langsung ke perkebunan kopi di daerah Bittuang dan Malimbong Balepe Kabupaten Tana Toraja. Sayangnya panen kopi sudah selesai bulan Agustus yang lalu. Hanya menyisakan sedikit gabah kopi yang ingin dikonsumsi sendiri oleh pemilik kebun. Sementara yang ada dikebun hanya buah kopi muda yang masih hijau. Proses pasca panen menggunakan metode giling basah, dan saat ini gabah kopi dihargai Rp16.000,- per liter. Dari kebun yang saya kunjungi sekali panen dapat menghasilkan satu ton gabah kopi.
Selain yang ada di kabupaten Tana Toraja, daerah perkebunan kopi juga ada di sejumlah desa di kabupaten Toraja utara. Bahkan sudah cukup punya "nama" sampai keluar Sulawesi Selatan. Sebut saja desa sapan, pulu-pulu dan awan. Daerah perkebunan kopi yang saya sebutkan terakhir jarak tempuhnya terbilang jauh dari Makale, ibukota Tana Toraja. Tapi saya berkesempatan bertemu dengan seorang penggiat kopi lokal yang aktif mempromosikan kopi toraja, khususnya kopi single estate dari perkebunan kopi yang saya sebutkan teakhir. 
wet hull process
Warung kopi "Kaa". Menilik arti namanya, asalnya dari kata "kahwa" yang juga merupakan asal-usul kata "coffee / kopi" saat ditemukan di afrika sana. Yang dalam pelafalan lokal orang toraja cenderung menyamarkan bunyi "ha" nya sehingga dinamakan "Kaa". Kopi lekat dengan masyarakat Toraja, tidak hanya sekedar komoditi perkebunan namun juga bagian dari tradisi. Ya, menyuguhkan kopi di acara-acara adat merupakan kebiasaan yang lazim di Toraja. Buah kopi yang dihasilkan dari perkebunan diolah sendiri sehingga menjadi siap saji. Meskipun sudah mulai langka, untuk proses roasting masih ada yang menggunakan wajan tanah liat yang disebut kurin litak. Arti katanya sendiri adalah panci dari tanah liat. Termasuk warung kopi Kaa yang saya kunjungi ini. Si empunya warkop berbaik hati mengajak saya sampai ke dapur pengolahan biji kopinya. Olah sang pemilik kurin litak ini sedikit dimodifikasi dengan penambahan indikator yang memudahkan proses roasting.  
Kurin Litak, alat roasting kopi tradisional toraja.
Sekalipun hasil roastingnya tidak sebaik biji yang diroasting dengan mesin kenamaan seperti probat di roaster-roaster terkenal, hasil akhir dengan menggunakan kurin litak ini sangat baik. Tentu saja peran besar dari master roasternya sangat utama. Pak sulaiman pemilik warkop Kaa banyak bercerita tentang kopi toraja, termasuk keprihatinannya tentang harga gabah kopi yang banyak dimainkan para middlemen. Dengan seringnya bertemu dengan para petani kopi, pak sulaiman juga ikut berbagi ilmu dengan para petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus melek pasar.
Warung Kopi "Kaa" Toraja
Warung kopi kaa ini tidak begitu luas hanya ada 4-5 meja di dalamnya. Namun namanya mulai tersohor bagi para pecinta kopi yang mencari "sesuatu" di toraja. Sebagian besar metode penyajiannya menggunakan manual brewing. Ini kali kedua saya berkunjung ke warkop Kaa, dan kali ini saya memilih kopi toraja awan yang diseduh dengan chemex. Selagi memilih biji kopi dan menyeduhnya obrolan kami merambat kesegala hal tentang kopi toraja. si empunya warkop ikut nimbrung di meja kami sembari menyuguhkan hasil seduhannya. Seperti yang tampak di foto dua tabung chemex tandas dalam waktu singkat... :D
Menyeduh Kopi Toraja
Dari warkop kaa, saya membawa pulang kopi toraja awan, sapan dan peaberry yang cukup sulit didapatkan. Konon peaberry -buah kopi dengan biji tunggal- ini hanya sekitar 5% dari hasil panen. dan memang rasanya unik. Tidak sabar ingin mencobanya, saya menyempatkan menyeduh sendiri dengan V60 yang selalu ikut traveling. Nikmat..
 
Salam,

Kopi Kalosi (Bukan) Toraja
Coffee trip saya kali ini ke salah satu daerah penghasil kopi grade specialty. Toraja, yang kopi specialty-nya langganan masuk dalam jajaran top di Indonesia. Ini bukan pertama kalinya, sudah pernah sebelumnya di awal tahun 2014, dan menjadi cikal bakal saya tenggelam dalam proses manual brewing. Tapi banyak hal yang keliru tentang kopi toraja. Kali ini saya membagi ironi dari kopi toraja yang termahsyur ini.

Kopi Kalosi (Bukan) Toraja
Diluar sulawesi kopi kalosi sangat terkenal, dan anehnya dikenalnya sebagai kopi single origin dari toraja. Entah bagaimana asal mulanya. Kalosi sendiri adalah nama sebuah desa di kecamatan Alla kabupaten Enrekang. Yang pasti kalosi tidak berada di Toraja. Kemungkinan karena faktor historis, Kalosi berlokasi di jalan poros Toraja-Enrekang dan menuju ke makassar. Daerah ini cukup ramai perdagangannya sejak dulu, termasuk perdagangan kopi. Kemungkinan kopi toraja yang dijual di kalosi inilah yang menyebar ke makassar dan keluar sulawesi, dan kemudian dikenal dengan kopi kalosi toraja. Dimana sebenarnya Kalosi sendiri bukan penghasil kopi. Di Enrekang sendiri salah satu penghasil kopi ada di desa benteng alla kecamatan baroko. Kira-kira berjarak 17 km dari desa kalosi.

Tidak Ada Identitas Asal-Usul Kopi
Daerah Pegunungan Bittuang
Kalau konsepnya kopi single origin / single estate diidentikkan dengan lokasi penghasil bahkan perkebunannya, maka ada beberapa kopi specialty dalam kategori single estate dari toraja. Sejak tahun 2008 Toraja dimekarkan menjadi dua wilayah kabupaten, Tana Toraja (Tator) dan Toraja Utara. Perkebunan kopi tersebar di dua wilayah tersebut. Di Tana Toraja, perkebunan kopi yang cukup besar ada di kecamatan bittuang dan mengkendek. Diantaranya adalah perkebunan kopi yang dikelola oleh perusahaan asal jepang. Namun ada banyak perkebunan kecil milik petani kopi yang tersebar diluar daerah tersebut, yang mungkin menjadi sebab sulitnya mengidentifikasi identitas single estate sesuai perkebunannya. Saya sempat mengunjungi kebun kopi milik petani di daerah bittuang dan malimbong balepe. Di Toraja Utara, perkebunan kopi ada di kecamatan buntu pepesan tepatnya di desa sapan dan pulu-pulu, kecamatan rante karua desa awan serta kecamatan sesean. Dari sekian banyak perkebunan kopi dari toraja, yang sudah dikenal identitas single origin / single estate hanya sebagian kecil saja. mungkin yang paling populer hanya kopi single origin toraja-sapan.

Roasting Gosong
Pedagang Kopi Pasar Makale
Banyak kopi di toraja, namun tidak semua berkualitas baik dan masuk kategori specialty (kopi dengan kualitas terbaik, dalam hal tingkat keutuhan biji kopi, kebersihan dan keseragamannya). Di pasar-pasar tradisional selalu ada penjual kopi. Namun selain tidak dijelaskan asal perkebunannya, biji kopi ini tidak diolah dengan baik. Seperti yang ada di pasar makale tana toraja, Kopi yang dijual campuran dari arabika dan robusta. kopi ini diroasting terlalu lama (dark level) cenderung over roast. Bahkan dibeberapa penjual, biji kopi tersebut masih dicampur jagung. Selain itu banyak yang dijual sudah dalam bentuk bubuk dengan penyimpanan terbuka. Kebanyakan kopi dijual dalam skala literan. Herannya yang laku dibeli masyarakat setempat adalah kopi jenis ini.  

Kebun Kopi Vs Warung Kopi
Banyaknya perkebunan kopi di toraja berbanding terbalik dengan warung kopi yang menyajikannya. Sangat jarang. Bahkan sewaktu pertama kali ke toraja, hampir tiga tahun yang lalu saya sangat heran bahwa sulit sekali menemukan warung kopi di toraja. Di kunjungan saya kali ini sudah sedikit berbeda. Warung kopi mulai bermunculan dikota makale dan rantepao (ibukota kabupaten). Namun tetap hanya bisa dihitung tangan. Terbilang sangat sedikit mengingat banyaknya sumber bahan baku untuk berbisnis warung kopi. Faktor budaya yang menjadi sebabnya. Orang toraja menikmati kopi di rumahnya masing-masing. terutama saat upacara dan pesta adat.  Cobalah berkunjung ke rumah warga di toraja. Tidak ada teh, yang disajikan selalu kopi. Dan mereka dengan sangat ramah selalu menyuguhkan kopi yang mereka racik sendiri. Suatu saat saya dan beberapa kawan kehujanan saat perjalanan ke salah satu desa penghasil kopi. Kemudian kami harus berteduh dibawah rumah salah satu warga (bentuk rumah panggung). Tuan rumah yang tidak kami kenal dengan ramahnya mengajak kami untuk naik dan berteduh di teras rumahnya. Dengan ramahnya kami disajikan kopi oleh tuan rumah. Menyuguhkan kopi bagi masyarakat toraja adalah bentuk penghormatan kepada tamu. Jadi mengapa tidak ada warung kopi di toraja, karena hampir tidak diperlukan. Mereka dengan senang hati menyuguhkannya kepada tamu. Namun bagi saya, warung kopi bisa jadi seperti etalase untuk memperkenalkan istimewanya kopi toraja.Terlebih untuk sebuah destinasi wisata seperti toraja.

Harga Melambung, Petani Kopi Terpuruk
Biji kopi yang gagal
Seandainya Secangkir long black menggunakan 15gram kopi dihargai Rp30.000,- seharusnya satu kilogram kopi dihargai Rp2.000.000,-. Jika nilai bahan baku adalah 50% maka satu kilogram kopi dihargai Rp1.000.000,-. Roaster kenamaan di jakarta menjual kopi toraja sangrai diharga Rp80.000,- s.d Rp100.000,- per 250gram atau sekitar Rp350.000,-/kg. Tahukah kawan-kawan harga gabah kopi (greenbean yang masih ditutupi kulit tanduk) petani diharga rata-rata Rp15.000,- perliter atau sekitar Rp25.000-/kg. Satu kilogram kopi di petani seharga Rp25.000,- menjadi seharga Rp350.000,- di roaster kopi dan menjadi Rp1.000.000,- di coffeeshop. Tentunya ini hitungan sangat kasar, namun yang pasti tingginya harga kopi tidak berimbas banyak bagi petani kopi. Petani kopi yang saya kunjungi bercerita bahwa dalam setahun panen kopi hanya bisa dilakukan sekali, sekitar bulan agustus. Sekali panen pak tani bisa menghasilkan 1 ton gabah kopi. Artinya penghasilan pak tani dari perkebunan kopinya sebesar Rp25.000.000,- setahun. Itupun belum memperhitungkan risiko hama dan gagal panen.

Saya sempat bertemu dengan seorang pecinta kopi yang ikut bersumbangsih untuk eksisnya kopi toraja. Kesimpulannya adalah, terlalu banyak middlemen dalam bisnis kopi. para petani tidak punya informasi harga dan pembeli potensialnya. Disinilah para tengkulak bermain, membeli kopi dari petani dengan harga sangat rendah dan kemudian mencari / atau sekedar menunggu adanya pembeli yang berani menawar dengan harga tinggi. Para tengkulak ini tidak menghadapi risiko gagal panen atau hama. Dengan pangsa pasar yang sedang tumbuh nyaris tanpa risiko bisnis. Belum lagi para middlemen ini sering menyamarkan identitas single origini / single estate atau bahkan kualitas kopi. Jarak supply and demand dalam pasar kopi terlalu jauh. asosiasi petani kopi dan asosiasi di hilir (pengolah biji kopi) harus bertemu dan memangkas jalur transaksinya. Karena kepentinyannya sama. Petani butuh harga yang lebih layak. Pengolah biji kopi butuh produk dengan kualitas dan identitas kopi yang jelas. Mereka punya kekuatan ekonomi yang besar, dengan memangkas jalur transaksinya sudah pasti dapat menekan harga bahan baku.

Para petani kopi bercerita bahwa harga gabah kopi sempat turun dan menyentuh level Rp9.000,- diawal tahun 2000an. Seharga seliter beras yang bisa dipanen tiga kali setahun. Dimasa itu banyak petani kopi beralih menanam kakau atau sawah. Kebun-kebun kopi dikelola alakadarnya karena dianggap sebagai hasil sampingan saja. Semua penikmat "bean from heaven" tidak akan senang dengan fakta ini.  Mudah-mudahan kopi toraja semakin populer, pasca panen dan olahannya semakin baik, dan jalur pasarnya makin ringkas dari hulu ke hilir. Supaya semua bisa menikmati dan sejahtera dari kopi.

Salam.
Black Coffee by Safruddin Alwi
Sumatera masih menjadi lumbung penghasil kopi single origin, khususnya sumatera utara. Sebut saja kopi sidikalang, mandheling, dan lintong. Nama-nama tersebut kepopulerannya tidak hanya di Indonesia, namun sudah menjadi komoditas ekspor terkemuka. Belum lagi kopi yang berasal dari provinsi lain di sumatera, aceh, lampung, dan sumatera barat. Ini adalah kali ke sekian saya mengunjungi kota medan. Daftar wajib saya saat berada di medan selain menyantap durian yang seperti tidak ada habis-habisnya juga berburu kopi single origin.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, coffee shop tumbuh subur di kota medan. Environment untuk membuka coffee shop memang sangat mendukung. Supply bahan baku yang tersedia dan pangsa pasar yang luas. Coffee shop yang diusung cukup beragam mulai dari sajian kopi espresso based maupun manual brewing. Bahkan pertumbuhan ini lebih pesat dibandingkan yang ada di kota makassar. Selain coffee shop, coffee roaster juga semakin banyak yang menyediakan retail kopi single origin yang beragam.
Medium to Dark Roast
Kali ini saya mencari kopi sidikalang serta aceh gayo. Jenis kopi ini sudah pernah saya coba sebelumnya dari beberapa roaster di jakarta. Namun belum puas rasanya jika tidak mengenal langsung profil rasa yang diracik oleh roaster-roaster dikampung halaman jenis kopi ini. Kopi sumatera terkenal dengan body yang bagus dengan keasaman yang rendah. Karenanya secara umum selalu diroasting dengan level medium to dark.Saya beruntuk mendapatkan kopi sidikalang dari Otten Coffee yang masih sangat fresh, tiga hari dari tanggal roastingnya. Siapa yang tidak kenal "Otten Coffee". Yang berkecimpung di dunia hitam pasti pernah mampir ke online shopnya atau minimal mendengar namanya.

Saya sendiri sudah beberapa kali mendapatkan coffee gadget dari Otten Coffee yang saya beli online. Namun baru kali ini berkesempatan datang langsung ke markasnya. Dan saya takjub toko yang terletak di jalan gang yang tidak terlalu besar ini bisa terkenal se-indonesia.
Suhu Air Untuk Menyeduh Kopi
Rejeki anak sholeh emang nda kemana, saya mendapatkan sampel kopi aceh gayo dari seorang teman. Sampel ini dari seorang roaster yang memang punya kenalan langsung petani kopi di kampung halamannya aceh gayo. Green bean diperoleh langsung dari petani kopi dan meskipun belum memiliki merk dagang yang terkenal, kopi hasil roasting laris manis oleh pelanggannya. 

Kedua jenis kopi yang saya peroleh diroasting dengan profil medium to dark. Dari penampakannya roasted bean ini tampak berminyak dan secara umum biji-bijinya lebih besar dibandingkan dengan biji kopi sulawesi. Untuk mengeksplor rasa dari sebuah kopi single origin saya selalu memilih metode pour over dengan V60. 
Pre-Infusi untuk mengeluarkan gas dari bubuk kopi
Untuk percobaan pertama saya gunakan 10 gram roasted bean yang saya grind tidak terlalu halus. Setelah membasahi paper filter, pre-infusi bubuk kopi dan menyeduhnya dengan takaran air 150ml kopi siap dicicipi. Di lain kesempatan saya akan menulis detail menyeduh dengan pour over V60 ini. 

Ciri-ciri kopi yang masih fresh
Metode ini lebih sederhana dan menurut saya lebih balance untuk mengenal citarasa alami kopi single origin. Ciri-ciri kopi sangrai (roasted bean) masih segar dan baru di roasting adalah akan selalu muncul buih keemasan saat pertama kali diseduh. Jika kita menggunakan paper filter akan tampak saturated color yang muncul pada paper filter saat diseduh. Dan tidak ada yang lebih menggembirakan pecinta kopi saat mendapatkan biji kopi yang diidamkan, masih fresh dan diroasting dengan baik. Tidak sabar untuk menikmati pastinya.
Menyeduh Kopi Dengan Filter V60
Simpulan setelah menikmati rasa kopi hasil buruan kali ini MANTAB. Namun peringatan saya untuk yang baru menjadi penikmat kopi, jenis ini terasa lebih berat, body yang tebal dengan rasa yang strong dan tebal. Sangat pas untuk dijadikan pilihan blend buat espresso. Sejauh ini dari beragam jenis kopi single origin yang sudah kucoba, jenis kopi aceh gayo pilihan paling utama saya untuk membuat kopi tarik atau kopi susu.
 
Sekian petualangan rasa kali ini, SALAM.
Cold brewing coffee - Safruddin Alwi
Katanya trend perkopian 2016 adalah yang dingin-dingin. Mungkin orang sedikit jenuh disuguhi kopi yang disajikan panas, dan akhirnya ingin mencoba sesuatu yang fresh. Cold brewing coffee alias kopi yang diseduh dengan air dingin mulai digemari. Masih katanya, sensasi rasa segelas cold brewing coffee bisa sangat berbeda.Sebagian orang tidak suka kopi dengan rasa bitter yang kuat. Cold brewing bisa jadi alternatif menu. Di pasaran sudah ada beberapa alat penyaji cold brewing yang diperkenalkan. Soal harga diantaranya ada yang seharga mesin espresso.
Grind size kasar dengan porlex - Safruddin Alwi
Alternatif yang lebih ekonomis bisa dengan membuat sendiri cold brewing coffee. Peralatan yang diperlukan pun umumnya ada di dapur. Kita memerlukan toples jar yang kedap udara, grinder, coffee filter dan tentu saja biji kopi. Freshness tetap menjadi mantra utama menyajikan kopi. Dengan metode apapun. Termasuk cold brewing. Hal inilah mengapa grinder (penggiling biji kopi) investasi alat kopi pertama yang harus dibeli. Karena kopi lebih cepat teroksidasi saat sudah berbentuk bubuk. Oksidasi tersebut yang mengakibatkan citarasa dan kesegarannya kopi berkurang. Sehingga lebih dianjurkan menggiling biji kopi sesaat sebelum diseduh. Faktor lainnya tentu saja biji kopi berkualitas baik dan baru diroasting. Kali ini Saya gunakan roasted bean aceh gayo organik specialty dari Anomaly coffee.

Saat menggiling biji kopi untuk cold brewing, tingkat kehalusannya dibuat agak kasar, kurang lebih seperti gula pasir. Dibuat agak kasar karena proses ekstraksi akan berlangsung cukup lama. Alternatif jika coffee grinder tidak tersedia di rumah, bisa gunakan blender. Sekalipun menggiling biji kopi dengan blender tidak disarankan karena hasil gilingan cenderung tidak merata. Grinder dengan conical burr tetap yang paling disarankan.   
Cold Brewing Process 1 - Safruddin Alwi
Rasio kopi dan air satu banding lima. Kopi yang sudah digrind ditempatkan dalam toples jar. Tambahkan air bersuhu normal sedikit demi sedikit dengan gerakan memutar. Setelah terisi air separuh, aduk perlahan dan tambahkan air lagi sampai penuh. Setelah penuh aduk lagi perlahan sebelum toples ditutup. Buat sedikit longgar tutup toples jar, karena saat diseduh dengan air bubuk kopi menghasilkan gas. Toples jar yang sudah diisi penuh ditutup dan tempatkan dalam kulkas. Ekstraksi kopi akan berlangsung selama toples tersebut disimpan di kulkas kurang lebih 12 jam. Selama disimpan, sempatkan untuk mengaduk brewing tadi minimal 2 kali.
Cold Brewing Process 2 - Safruddin Alwi
Setelah didiamkan selama 12 jam cold brewing bisa disajikan. Siapkan gelas saji, tambahkan gula cair agar lebih mudah larut dan es. Jika tidak ingin terlalu pekat bisa ditambahkan air. Untuk menyaring bubuk kopi yang kasar tadi, bisa menggunakan paper filter dan hario V60. Aduk cold brewing coffee sebelum dituang melalui paper filter. Tuang perlahan dengan gerakan memutar agar cold brewing coffee tersaring dengan baik. Tips penting saat menggunakan paper filter untuk menyaring kopi, basahi paper filter sebelum digunakan. Ini supaya sajian kopi tidak dipengaruhi aroma dan rasa dari kertas filter. Untuk cold brewing yang tidak langsung dinikmati semuanya. Baikknya di saring terlebih dahulu ke toples jar yang berbeda. Kemudian ditutup rapat dan dimasukkan kembali ke dalam kulkas. Karena proses ekstraksi yang terlampau lama justru akan merusak citarasanya. Cold brewing coffee yang sudah disaring bisa bertahan beberapa hari.
Cold Brewing Process 3 - Safruddin Alwi
Kopi yang diseduh seperti biasa dan kemudian disajikan dingin dengan tambahan es (kopi obeng) biasanya cenderung watery. Rasa kopi cenderung bitter dan "gak nyambung" dengan dinginnya es yang meleleh. Es yang ditambahkan mengurangi sensasi rasa kopi, namun jika menambah porsi kopi justru cenderung terlalu kuat. Metode cold brewing menghasilkan citarasa yang berbeda. Cold brewing menghasilkan kopi yang karakter rasanya senikmat kesegarannya. Citarasanya kuat tapi tidak berlebihan (bitter), kesegarannya mantap tapi tidak berasa air saja (watery). Setiap kopi punya karakter rasa bawaan, yang selalu dicari penikmat kopi single origin dengan manual brewing. Dengan metode cold brewing kita dapat menikmati karakter rasa bawaan tadi dengan sensasi dingin yang menyegarkan.

You may try this at home. SALAM.
Phoenam Kopitiam - Makassar
Secara bahasa kopitiam diartikan warung kopi (dari bahasa tionghoa). Jadi memang banyak yang salah menggunakan istilah ini dengan menyebut "warkop kopitiam". Bahkan koptiam yang sudah modern dan tampil di mall-mall, terkadang salah menggunakan istilah menu sebuah kopitiam. Menu kopi "O" diartikan dengan kopi yang disajikan panas dan kopi obeng (bahasa aslinya o pheng) disajikan dengan tambahan es. Jadi sebenarnya aneh sewaktu pesan Kopi O malah ditanya mau panas atau dingin ?? Tapi kopi bukan soal tata bahasa, toh kopitiam sudah jadi bagian dari akulturasi budaya Indonesia - melayu - tionghoa.

Saya masih cukup penasaran dengan sejarah kopi yang berkembang di Asia. Tidak banyak referensi tentang hal ini. Kalau perkembangan kopi di Eropa sudah jelas dari penjajahan di negara-negara dunia ketiga, termasuk afrika yang merupakan asal muasal "the bean form heaven" ini. Berkembang pesat setelah perang dunia, kopi menjadi bagian dari gaya hidup di Eropa. Sekalipun penyajiannya sangat beragam di masing-masing negara, mayoritas di Eropa kopi disajikan dengan bentuk dasar espresso. Sedangkan di Asia umumnya disajikan dengan manual brewing dan filtering.

Supaya perbandingannya cukup setara, lebih enak membahas sesuai kelompok besarnya. Kopitiam yang disajikan dengan manual brewing dan filtering. Entah itu kopi pancong, cloth filter, vietnam drip, tubruk atau yang lainnya. Perbandingan kopitiam-kopitiam ini dari yang pernah saya nikmati di beberapa kota di Indonesia. Tapi mohon maaf, yang judulnya kopitiam atau warung kopi yang hanya menyajikan kopi instant dan diseduh air panas tidak masuk hitungan saya. Skill sang penyaji kopi patut dihargai. Perbandingan ini based on personal taste saya, penikmat kopi yang hobi berkeliling.

Makassar dan Sulawesi Selatan
Dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, warung kopi tumbuh subur menyemarakkan kota daeng. Yang sangat menggembirakan warung kopi jadi bagian dari gaya hidup anak-anak muda. Sebagian besar menyajikan kopi ala kopitiam pada umumnya. Beberapa kopitiam di sekitaran ratulangi di desain sangat cozy dan bisa dibilang mewah. Tapi kopi soal rasa, interior mewah tetap kalah dengan rasa yang istimewa. Salah satu yang terbaik menurut saya tetap yang paling klasik, Phoenam. Yang sudah lama di "dunia hitam" pasti tahu betul warkop yang satu ini. Tapi mungkin justru agak asing di telinga anak muda. Warkop phoenam yang asli sedari dulu adanya di jalan Jampea, yang sudah ada sejak 1946. Makassar yang sejak dulu dikenal sebagai kota pelabuhan turut mengantarkan warkop ini melegenda. Lokasinya dekat dengan pelabuhan dan warkop yang ada sejak jaman kemerdekaan ini akrab dengan para pelancong. Profil rasa kopinya high body. Tebal dengan tekstur yang terasa full di mulut. Sepertinya bawaan dari kopi yang di roast agak dark. Sajian utama disini kopi dan toast with kaya. Sangat pas rasanya kopi yang dibuat pekat dipadu dengan toas yang lembut.

Daerah di luar makassar juga punya tradisi ngopi yang menjamur. Salah satunya kopi Culang di kota benteng kepulauan selayar. Butuh perjalanan yang tidak singkat memang untuk sampai di Selayar. Namun jika kawan-kawan kebetulan sedang berada di Selayar, kopi Culang layak untuk di coba. Warkop ini bisa dibilang kecil dan sempit. Karena memang lokasinya menempati jejeran ruko-ruko tua di sekitaran pelabuhan. Uniknya di meja-meja warkop Culang disediakan permainan catur atau halma. Orang Selayar suka ngopi santai sambil main catur atau halma. Profil rasa kopi yang disajikan medium body, tidak terlalu berat dengan acidity yang rendah. Cocok dinikmati sambil main catur.
Kopi Culang - Selayar
Kepulauan Riau
Provinsi Kepulauan Riau punya budaya ngopi yang lekat di masyarakat. Hampir disetiap kota, warkop ramai dikunjungi. Metode penyajian kopi mencerminkan budaya tiong hoa dan melayu yang lama membaur. Biasanya penyaji kopi menggunakan cloth filter, yang umum digunakan untuk menyajikan kopi tarik. Hal unik lainnya yang selalu sama, disemua kota-kota di Kepri dari batam sampai tarempa, kopi disajikan dalam cangkir keramik kecil berukuran sekitar 100 ml. Disajikan dalam ukuran kecil karena kopi dibuat sangat pekat dan strong. Kalau di Sulsel umumnya warkop hanya menyajikan makan ringan atau sarapan seperti roti kaya, di Kepri umumnya mereka menyajikan makanan berat sebagai pendamping kopi. Mulai dari nasi lemak sampai dengan aneka mie. Satu diantara kopitiam yang sangat terkenal adalah kopi hawaii di Bintan.
Kopi Hawaii - Bintan
Warkop ini mulanya ada di Kijang ibukota Bintan, dan sekarang kopi hawaii sudah membuka cabang yang lainnya. Mereka menyajikan kopi seperti pada umumnya warkop di Kepri. Gelas kecil diisi dengan kopi pekat atau kombinasi dengan condensed milk. High body, strong and medium acidity kombinasi rasa yang langsung nyetrum di lidah. Kopi hawaii selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan. Terkadang sulit menemukan kursi kosong di warkop ini. Uniknya mereka bisa juga menyajikan kopi "take away" yang diisi ke dalam botol kaca untuk dibawa pulang.  
Kopi saring Warkop Winny - Pontianak
Pontianak
Kita meluncur ke tanah borneo. Kota yang satu ini sudah dikenal dengan istilah kota seribu warung kopi. Entah benar ada seribu atau sekedar julukan, yang pasti warkop di Pontianak memang banyak. Bahkan salah satu brand wisata yang coba dikenalkan adalah wisata warung kopi. Beberapa warkop sudah punya "nama" yang dikenal luas di Pontianak. Kalau warkop Asiang sudah sangat terkenal di kalangan peminum kopi gaek, warkop winny justru terkenal sebagai tempak nongkrong anak-anak muda. Terlebih lagi lokasinya yang strategis di Jalan Gadjahmada yang ramai. Warkop satu ini memang dibuat lebih kasual. Soal rasa, warkop winny menyajikan kopi yang lebih ringan. Mungkin karena pangsa pasarnya yang anak muda. Kopi yang disajikan cenderung low to medium body dengan medium acidity. Teman dari segelas kopi disini juga cukup spesial, pisang srikaya. Pas untuk menemani ngopi sambil duduk berlama-lamaan. Minusnya mungkin di waktu-waktu ramai sulit sekali mencari parkiran di sekitaran Gadjahmada.

Warkop alias kopitiam mana yang terbaik ? Jika harus memilih satu, pilihan saya ke kopi hawaii di Bintan.Ini masalah selera dan menurut selera saya racikan kopi hawaii paling pas. Secangkir kecil kopi yang nikmat. Jadi terkenang-kenang rasanya kopinya. Tidak terasa sudah dua tahun juga meninggalkan daerah Kepri.

SALAM.
Toraja Sapan Arabica Specialty Coffee
Kilas balik ke belakang, Awal mulanya saya tipe penikmat kopi yang berpetualang dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya. Apalagi sewaktu masih tinggal di Kepulauan Riau, banyak sekali pilihan kedai kopi yang sebagian diantaranya sudah menjadi usaha turun temurun. Yang marak di Kepri adalah model kopitiam dari percampuran budaya melayu dan tionghoa. Jangan salah kaprah, kopitiam bukan menu tapi secara harafiah berarti warung kopi. Karena konsep warung itulah model penyajian kopinya terbilang sederhana, yaitu diseduh langsung. Biasanya dengan teko besar atau dengan saringan kain. Dari cara ini lahirlah menu kopi O yaitu campuran kopi item dan gula atau kopi Obeng (adaptasi dari kata kopi O pheng) campuran kopi - gula - es.
Milk Jug dengan thermometer

Nah setelah pindah domisili ke Sulawesi Selatan, saya belum menemukan tempat ngopi yang sesuai selera pada awalnya. Mulai memikirkan cara yang lebih repot, menyeduh sendiri. Terlebih setelah traveling ke Toraja yang tersohor sebagai daerah penghasil kopi. Dengan membawa oleh-oleh kopi dari toraja sewaktu pulang ke makassar, dimulailah semua petualangan "dunia hitam" yang nikmat ini.  
Menyeduh kopi dengan Vietnam Drip
Ternyata cara yang "lebih repot" ini juga lebih nikmat. Luas sekali untuk dieksplor dan dikenali setiap detailnya. Dari sebelumnya kopi yang saya kenal adalah "minuman dalam gelas" menjadi green bean coffee yang punya citarasa berbeda sesuai kelas dan jenisnya, yang kemudian diroasting dengan tingkat dark tertentu, yang kemudian grind dengan tingkat kehalusan tertentu, yang kemudian diseduh dengan berbagai macam metode, baru kemudian menjadi minuman dalam gelas. Defenisi yang jadi cukup panjang. 

Boleh dibilang karena kopi toraja inilah saya jadi repot mempelajari setiap proses dari defenisi kopi tadi. Dan gara-gara kopi toraja ini juga saya jadi tau ada kenikmatan lebih dari secangkir minuman dalam gelas ini. Namanya Toraja Sapan Arabica Specialty Coffee. Sapan nama desa tempat kebun kopi tersebut di toraja. predikat Specialty coffee ini merujuk ke kelas kualitas kopi, dari hasil penilaian atas keseragamannya, kebersihannya, biji cacat dan lain-lainnya. untuk score diatas 85 diberi predikat specialty coffee. Arabica adalah jenis kopinya yang berkarakter lebih asam dan rendah kafein dibanding jenis lainnya yaitu robusta. Yang saya gunakan adalah single origin yang berarti kopi murni dari satu jenis kopi (tidak dicampur dengan jenis lain) dan berasal dari satu tempat.
Latte Art by Safruddin Alwi
Belakangan saya tahu bahwa kopi toraja sapan jenis arabica di lelang tahun 2013 terpilih sebagai kopi dengan score cuping tertinggi dibanding kopi dari daerah lain dan dihargai $45 per KG. Silakan hitung sendiri dalam rupiah yang pasti terbilang cukup mahal. Supplier kopi yang berkualitas memberikan informasi tentang jenis dan kelas kopi serta karakter nya serta diberi kemasan kedap udara untuk menjaga kualitas. Akan lebih baik lagi jika kapan kopi tersebut diroasting juga dicantumkan. karena tidak ada yang lebih nikmat dari menyeduh kopi yang masih segar dari roasing machine dan langsung grind untuk diseduh. Seluruh citarasa kopi langsung melekat di memori.

Salam.
Mari berceritera sesuatu yang ringan-ringan saja.. :)

Tentang beberapa tulisan saya mengenai behind the picture hunting foto selama di natuna, ada beberapa pembaca yang komplain karena tulisannya terlalu rumit untuk dimengerti. yaa.. karena di tulisan tersebut isinya membedah pengambilan gambar. Untuk memberi referensi ke pembaca yang sekedar ingin bertraveling akan ada beberapa tulisan sebagai travel guide kawan-kawan jika ingin berwisata ke natuna. Saya sangat ingin sekali menyelesaikan eBook traveling natuna supaya bisa segera saya share ke pembaca, semoga saya diberi kelonggaran waktu untuk itu.. soo stay tune.
Senja di Ranai
Secara umum Natuna mungkin bukan destinasi wisata yang cukup populer, dan sudah jamak di Indonesia daerah wisata di luar tujuan favorit masih minim fasilitas, so natuna lebih cocok bagi kawan-kawan backpacker yang menomor sekiankan kemewahan. Namun pemerintah Natuna terbilang cukup giat mengembangkan infrastrukturnya, di bandingkan pertama kali saya ke Natuna tahun 2008 saat ini sudah ada alternatif transportasi dan akomodasi yang cukup memadai. Penerbangan ke Natuna dapat diakses dari Batam atau Tanjungpinang setiap hari. Begitu juga dengan transportasi di dalam kota Ranai serta ke beberapa pulau utama sudah tersedia moda transportasinya. Namun akomodasi hanya tersedia di Kota Ranai dan beberapa pulau utama seperti Sedanau. Di luar yang tersedia tersebut, alternatifnya anda dapat menyewa pompong (perahu nelayan) dan menginap dirumah penduduk jika kawan-kawan hendak mengunjungi pulau-pulau kecil lainnya.
Transportasi yang menghubungkan beberapa pulau utama di Natuna
Jika ingin sedikit mengenal budaya dan keseharian masyarakat Natuna, pergilah ke pantai dan pelantar-pelantar nelayan. Ada riak kehidupan yang mempesona disana. Hampir di setiap pantai yang saya kunjungi tersaji alam yang bersahabat dengan masyarakatnya. Karena penghidupan mereka banyak bergantung dari hasil laut. Rumah-rumah nelayan berdiri diatas pancang kayu di kiri-kanan pelantar. Bahkan di beberapa wilayah tidak dijumpai mobil dan hanya dapat diakses dengan sepeda motor dikarenakan pelantar yang menghubungkan perkampungan dibuat tidak cukup lebar dan hanya berpondasikan kayu.
Semangat Pagi Pak Guru
Masyarakat pesisir natuna
Sekalipun bukan daerah yang padat-Penduduk Natuna tahun 2011 hanya sekitar 70.000 jiwa yang tersebar di 27 pulau berpenghuni. Selalu saja ada keramaian di sekitar pantai, jika anda cukup beruntung anda dapat menyaksikan permainan adu gasing sambil menikmati kelapa muda di sekitar pantai tanjung. Tidak hanya anak-anak yang ramai bermain bahkan orang tua sekalipun gemar memainkan permainan ini. Cerita tentang kuliner, seafood di Natuna jelas menggiurkan anda dapat jumpai di restoran gerai atau sisi basisir. Namun saya ingin menceritakan sesuatu yang khas Natuna. Warung-warung kopi selalu ramai di Natuna bahkan sudah menjadi bagian dari budaya. Masyarakat setempat tidak hanya sekedar mencari minuman hangat dan cemilan di warung kopi, namun menjadi ajang berbagi informasi dan tempat bertukar pikiran mulai dari masalah politik sampai gosip rumah tangga. Menemani kopi anda bisa menikmati cemilan khas Natuna, ada kernas yang terbuat dari sagu dan ikan atau lempar (dibaca dengan ejaan melayu dengan "r" yang disamarkan) yang terbuat dari ketela diisi dengan racikan ikan berbumbu.
Kuliner Natuna
Jajanan khas Natuna

Jangan puas dengan sekedar menikmati pantai Natuna. Ada keindahan lebih dibawah sana, yaa.. bagi kawan-kawan yang hobi diving atau snorkling Di sekitar pulau senoa dan pulau laut ada beberapa spot yang menarik untuk dijelajahi. Sayang sekali saya tidak membawa perlengkapan fotografi underwater untuk mengabadikannya, namun di Natuna ada komunitas diving yang dapat anda ajak sebagai guide. Jika memang ingin menyelam atau snorkling sebaikan anda menyiapkan sendiri peralatannya sebelum ke Natuna karen tidak ada tempat sewa alat tersebut di Natuna.
Dalam perjalanan pulang setelah diving di sekitar pulau Senoa
Untuk mencapai spot-spot menyelam tersebut anda dapat mengakses dari perkampungan nelayan di desa sepempang. Dikarenakan tidak ada transportasi umum ke sana anda harus menyewa pompong nelayan. Kisaran harganya antara Rp300.000 sd Rp500.000 tergantung besar kapal yang hendak disewa. Namun hindari perjalan ke sana pada bulan Desember sampai Februari, di waktu tersebut Natuna dilanda musim utara dimana arus laut dan cuaca kurang mendukung.
Nikmatnya senja
Suasana desa sepempang
Cukup sekian cerita wisata Natuna, to be continue... salam :)


Postingan Lama Beranda

Latest Posts

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Tutorial Photoshop : False Color
  • Tutorial Memilih dan Menggunakan Filter Untuk Foto Landscape
  • Belajar Fotografi : Membuat Foto Siluet (Silhouette)
  • Tutorial Photoshop : Mengedit Warna dan Tone Sebuah Foto
  • Belajar Fotografi : Lebih Lanjut Tentang Komposisi
  • Wisata Natuna : Senoa, Pulau Ibu Hamil yang Mempesona
  • Tutorial Photoshop : Membuat Foto Montase (Montage)
  • Sebuah Liputan Lomba Dragon Boat Tanjungpinang (Photo Essay)
  • Warung Kopi Alias Kopitiam Favoritku

Top List

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Field Report : Landscape Pulau Senoa, Natuna
  • Coffee trip Toraja : Sebuah Ironi (bagian I)
  • Fotografer itu Sang Petualang Sejati
  • Coffee Trip Toraja : Mengenal Kopi Toraja

Search

Happy Daddy Story

Copyright 2010 Aftertaste Blog.
Blogger Templates Designed by AfterTaste