• Home
  • Photography
    • Landscape and Nature
    • People and Street
    • Portrait and Models
    • Belajar Fotografi
    • Tutorial Photoshop
  • Coffee Corner
  • Aftertaste Story
  • Gallery
    • Landscape and Nature
    • Human Interest
    • Black and White
    • Instagram
  • Travel
  • About

Aftertaste Blog

By Safruddin Alwi

Sunset at Rocky Beach - Safruddin Alwi
Sunset sudah menjadi salah satu momen yang paling banyak diincar fotografer, ada sensasi yang menarik dari fenomena pergantian siang dan malam ini. Namun karena seringnya mungkin kita terkadang bosan alias mati gaya dalam membuat foto sunset. Bisa jadi karena keengganan untuk bereksperimen dan mencoba ide kreatif baru. Yang paling awal perlu dipahami adalah prinsip utama yang membedakan foto sunset (dan foto landscape pada umumnya), yaitu focal length. Lensa wide dengan focal length 16mm misalnya akan membentuk bulatan sunset tampak kecil dan kejauhan. Sebaliknya saat melakukan zoom ke focal length 100 atau 200mm bulatan sunset akan tampak semakin besar. Contoh foto "Sunset at rocky beach" saya menggunakan focal length 16mm.
Sunset Kota Semrawut - Safruddin Alwi -
Menggunakan focal length normal dengan rentang 35 s.d 50mm, atau biasa disebut focal length normal eye karena mirip dengan persepsi pandangan manusia normal. Rentang focal length ini minim distorsi dan umum dipakai untuk objek berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. Dalam foto sunset pun focal length ini akan menampakan bentuk matahari yang relatif sesuai dengan pandangan kita. Dengan memilih focal length semakin tele bulatan matahari akan semakin besar. Perlu diperhatikan bahwa saat obyek matahari dominan dalam frame foto, rentang exposure akan sangat tinggi sehingga obyek selain matahari akan membentuk siluet. Pembahasannya ada di sesi foto siluet INI ). Contoh foto Sunset kota semrawut menggunakan focal length 35mm dan foto"Nelayan" menggunakan focal length 100mm.
Nelayan - Safruddin Alwi -
Berikan Bentuk
Bentuk matahari yang bulat utuh seperti telur ceplok tidak selalu bisa didapatkan, bergantung pada kondisi cuaca. Adanya kabut atau awan di ujung horison akan sangat membant. Namun jika bentuk ini terasa terlalu lazim, berikan bentuk pada matahari tersebut. Lebih dikenal dengan istilah star effect, karena dengan cara ini sinar matahari akan membentuk sudut-sudut panjang. Tidak terlalu sulit set diafragma sekecil mungkin (f22) dan akan lebih dramatis jika posisinya ditempatkan di sisi suatu objek.
Diantara Karang - Safruddin Alwi -
Ghost and Flare
Bahkan masalah bisa dijadikan ornamen indah dalam sebuah foto. Ghost and flare sebenarnya muncul karena optik yang tidak sempurna sehingga muncul pantulan cahaya di permukaan lensa, sangat umum terjadi saat sumber cahaya yang kuat berasal dari depan lensa seperti pada saat memotret sunset. Dalam banyak kasus fotofgrafer harus meng-clone untuk menghilangkan ghost and flare tersebut jika mengganggu objek foto. Namun dengan menempatkannya pada posisi yang baik ghost and flare dapat menjadi ornamen menarik dalam foto sunset, seperti pada siluet tubuh di foto "Perjalanan Pulang".
Perjalanan Pulang - Safruddin Alwi -
Reflection
Cara paling umum mengambil foto sunset adalah dengan memotret straight langsung ke objek. Kita bisa memanfaatkan media yang dapat memantulkan refleksi sunset untuk membuatnya lebih menarik dan menjadi tidak biasa. Seperti menampilkan tipuan kecil yang dapat menarik perhatian. Media refleksi ini bisa apa saja sepanjang bisa memantulkan cahaya dan memberi refleksi yang utuh.
Bermain di Pantai - Safruddin Alwi -
Twin - Safruddin Alwi -
Make it Blur
Sunset selalu menghadirkan suasana yang kuat dan dramatis. Namun menghilangkannya serta membuatnya blur dengan miss focus justru bisa menguatkan suasana. Identitas sunsetnya tidak selalu hanya ada di bentuk mataharinya. Bias sinarnya dan kuatnya warna-warna warm yang dihadirkannya juga sangat menarik. Yang perlu diperhatikan, kita perlu diafragma besar untuk mem-blurkan matahari sehingga memungkinkan foto akan over exposure. Di foto "menjelajahi karang" berikut ini saya menggunakan f/4 dan akhirnya saya mencrop bagian langit yang terlalu terang, menyisakan bias matahari yang menjadi bokeh dan sangat menarik.
Menjelajahi Karang - Safruddin Alwi -
Interaksi
Saat menyaksikan sunset mungkin kita akan langsung mengambil gambar matahari tersebut begitu saja. Sayangnya terkadang hasilnya mengecewakan dan tidak menarik. Suasana sunset perlu diperkuat dengan memunculkan interaksi suasana sunset tersebut dengan lingkungan sekitarnya. Cara paling ampuh dengan menempatkan elemen foreground yang menarik dan menunjukkan identitas lingkungannya. Semisal foto berikut ini. Adanya perahu pada foreground dapat memberi identitas suasana dan lokasi tempat tersebut. Dan sebaliknya jika foto ini hanya ada matahari sunset dan pantai mungkin akan tampak membosankan.
Sunset di kampung nelayan - Safruddin Alwi -
Sekian share tentang foto sunset kali ini, semoga manfaat... SALAM.
Memancing by Safruddin Alwi
Saya penggemar foto siluet atau dalam bahasa inggris Silhouette, terutama dalam membuat foto-foto human interest. Seperti yang kawan-kawan bisa lihat di galeri foto human interest SoulinArt di SINI. Membuat foto siluet sedikit tricky bagi saya. Secara teknik foto siluet lebih mudah dibuat bahkan dengan kamera saku sekalipun kita bisa membuat foto-foto siluet yang indah. Namun ada kondisi yang dapat menjadi point minus jika foto siluet tidak dibuat dengan prinsip tertentu. Di tulisan belajar foto berikut ini saya ajak kawan-kawan mencoba trik sederhana untuk membuat foto siluet yang "menyihir".
Mengukur Landasan by Safruddin Alwi
Sebenarnya foto siluet adalah foto yang menyimpang dari kaidah umum foto yang baik. Secara umum foto yang baik ditandai dengan bentuk histogram seperti lonceng yang menandakan distribusi cahaya yang merata, tidak ada area yang nge-blok hitam total dan tidak ada bagian yang putih polos karena over exposure. Di foto siluet kita justru sengaja menciptakan suatu bentuk yang nge-blok hitam total dengan membuat area tersebut under exposure. Karena kebutuhan "distribusi cahaya yang merata" itulah kamera digital harus mampu mengcover dynamic range yang luas. Boleh dibilang semakin mahal kamera semakin luas dynamic rangenya (rentang exposure tertinggi dan terendah) dan sebaliknya. Hal tersebut yang menyebabkan untuk membuat foto siluet dengan kamera sakupun bisa bahkan dengan kamera ponsel. karena kebutuhan dynamic range yang tidak terlalu luas.
Pulang Melaut
Metering Exposure :
Yang paling menentukan adalah metering (mengukur cahaya dengan titik fokus tertentu di view finder). Secara sederhana untuk membuat foto siluet kita harus metering ke area paling terang yang ada pada view finder. Berikut trik metering yang dapat memudahkan.
Trik 1 : Saya mengubah setting metering dan fokus di kamera (khusus DSLR). default setting kamera saat memencet tombol shutter akan mengunci fokus dan metering. setting ini saya ubah sehingga saat shutter dipencet hanya mengunci fokus saja. sebagai gantinya tombol A-E lock disamping view finder saya fungsikan untuk mengunci metering. tujuannya untuk memudahkan saat menata komposisi. Setelah mengunci metering dengan tombol A-E lock pada area paling terang di view finder, saya masih bisa menata ulang komposisi dan menentukan fokus dengan tombol shutter. di foto memancing saya metering ke langit dan foto landasan saya metering langsung ke matahari.
Trik 2 : Dynamic range di kamera saya setting "low" karena yang akan ditonjolkan adalah area yang gelap. jari saya juga stand by untuk mengatur kompensasi exposure, jika terlalu terang dikompensasi (-) atau jika terlalu gelap dikompensasi (+) sesuai kondisi pencahayaan saat memotret. foto melaut di atas saya kompensasi minus 0,6 agar bentuk siluet nelayan dan perahunya lebih standout.
Trik 3 : ISO selalu saya setting paling rendah karena area gelap rawan noise. perlu diingat juga untuk menjaga shutter speed pada kecepatan yang aman dari "shake". foto yang shake akan merusak bentuk siluetnya dan gestur menjadi tidak jelas. terutama jika yang ingin dibuat seluet dalam posisi bergerak.
Pulau Dompak by Safruddin Alwi
Komposisi
Pencahayaan yang tidak merata akan membuat foto tampak flat dan tidak berdimensi. Hal tersebut menjadi masalah dalam foto siluet karena faktor distribusi cahaya seperti dijelaskan sebelumnya. Namun hal tersebut bisa disiasati dengan menerapkan teknik komposisi yang baik.
Trik 1 : kita bisa memberikan dimensi pada foto dengan membuat perbandingan ukuran dari objek siluet. dengan efek skala pada elemen komposisi penikmat foto dapat membedakan keberadaan objek di posisi dekat atau jauh. contoh foto pulau dompak ini saya menempatkan objek siluet orang di atas perahu dibagian depan dan siluet masjid pulau dompak di kejauhan pada backgroundnya.
Trik 2 : Supaya penikmat foto dapat merasakan ruang penglihatan fotografer kita bisa memanfaatkan komposisi leading line atau memanfaatkan panjang sisi-sisi foto. seperti pada foto mengukur landasan dan foto memancing di atas atau foto sparkling water di bawah ini.   
Sparkling Water by Safruddin Alwi
Beberapa hal yang perlu dihindari dalam membuat foto siluet adalah menjaga bentuk dan gesture objek siluet dengan speed yang cukup agar tidak shake seperti dijelaskan sebelumnya. hindari komposisi konfensional karena akan membuat foto flat dan tidak menarik. hal lainnya adalah hindari adanya dua objek yang menumpuk, karena hal tersebut mengakibatkan penikmat foto tidak memahami bentuk siluet bahkan menilai bentuk/gesture siluet aneh. saya menyertakan contoh foto yang "salah" secara teknik agar tidak ditiru.
Bad Sampel
Pada sampel foto yang salah ini, dengan komposisi rule of third saja foto menjadi sangat tidak menarik karena penikmat foto tidak dapat merasakan ruang pandang sang fotografer. selain itu di objek siluet perahu mungkin penikmat foto akan merasa aneh dengan ti orang di atas perahu, karena berlawanan arah. hal tersebut dikarenakan sebenarnya objek siluet tersebut adalah dua perahu yang kebetulan berpapasan sehingga tampak seperti 1 perahu.

Demikian sesi belajar fotografi kali ini, semoga manfaat.... SALAM.
One Direction by safruddin alwi - side light
Cahaya elemen paling esensial dalam fotografi. Bisa dibilang tidak ada fotografi tanpa cahaya. Karena itu memahami karakternya dan bagaimana mengontrol cahaya menjadi wajib untuk dimengerti oleh fotografer. Sangat luas jika ingin membahas lighting yang mencakup seluruh genre fotografi. Jadi dalam tulisan ini saya fokus membahas pencahayaan dalam foto landscape. Saya sendiri pecinta natural light, modified light terlalu ribet dan kurang orisinil. Dengan mengerti karakter cahaya yang kita hadapi maka kita akan lebih mudah menuangkan ide dan mengonsep pengambilan gambar. Secara ringkas membahas cahaya kita akan berbicara mengenai kualitas dan kuantitas cahaya yang dapat kita manfaatkan dengan mengenali arahnya, dari depankah, belakang, atau samping objek serta kekuatan cahaya hard atau soft. Untuk itu saya menyertakan beberapa foto dengan kondisi pencahayaan yang berbeda untuk memudahkan pemahaman.
Side light atau pencahayaan dari arah samping objek banyak digunakan untuk menguatkan dimensi atau efek ruang sebuah foto. Dengan sumber cahaya alami matahari, untuk mendapatkannya kita memanfaatkan waktu-waktu saat sudut matahari masih rendah. Hal inilah mengapa fotografer landscape lebih banyak berburu foto pada waktu pagi atau sore hari. Side light juga sangat membantu mendramatisir foto.Selain karena dapat menguatkan kesan luas dan dimensi foto, pencahayaan pada pagi dan sore hari menguatkan saturasi warna-warna aktif (penjelasan warna aktif lihat Link ini). Foto berjudul One Direction saya ambil di waktu sore hari menjelang jam 6. Kamera membidik objek yang berada di sebelah utara, dan cahaya matahari dari sebelah kiri saya memberikan permainan shadow dan highlight yang dinamis pada foreground dan POI berupa laguna dan batu granit yang membentuk penunjuk arah ke sebuah perahu. Burning sky di bagian background juga menampilkan saturasi yang kuat.
Green and Blue by Safruddin Alwi - Front Light
Di foto berjudul Green and Blue menampilkan arah pencahayaan dari depan. Posisi kamera saya berada di sisi timur menghadap objek perbukitan. Foto saya ambil pagi hari sehingga pencahayaan matahari dari depan objek (atau belakang kamera). Di atas jam 9 pagi sampai sebelum sore hari cahaya lebih netral dan putih. Pengambilan foto antara jam 11 sampai jam 4 sore biasanya dihindari karena kuantitas pencahayaan yang hard mengakibatkan kontras yang tinggi antara shadow dan highlight. Kondisi ini rawan over exposure pada highlight karena sensor kamera memiliki keterbatasan dalam dynamic range, hal sebaliknya juga pada shadow. Foto ini diambil jam 9 pagi dengan kondisi berawan yang berfungsi sebagai softbox raksasa untuk meredam cahaya matahari. Dengan kondisi tersebut saya mendapatkan pencahayaan yang cukup merata dari FG, POI sampai BG. Kualitas pencahayaan yang netral juga membantu menjaga keakuratan warna (hue) hijau dan biru yang termasuk warna pasif. Saya menggunakan filter ND untuk mendapatkan motion blur savana dan awan.
Ranai Mountain by Safruddin Alwi - Back light
Kondisi pencahayaan dari belakang objek (back light) saya contohkan dengan foto Ranai mountain yang saya ambil pada jam 5 sore. Pencahayaan back light terbilang cukup sulit dikontrol, dalam banyak kondisi akan menyulitkan kamera dalam memfokus. Selain itu back light memberikan kuantitas pencahayaan yang hard sehingga kontras shadow dan highlight cukup besar. Namun dengan beberapa teknik pencahayaan back light justru menghasilkan foto yang dramatis. Di foto ranai mountain cahaya matahari datang dari arah belakang gunung. Saya metering ke langit dengan setting aperture maksimal f/22 agar matahari dan langit tidak OE dengan membiarkan gunung ranai dan beberapa bagian lainnya tenggelam dalam shadow. Dynamic range saya setting maksimal agar sensor masih dapat menangkap detil pada shadow. Dengan olah digital saya mengangkat detail pada FG dengan mengatur curve. Selain itu setting aperture f/22 membentuk star effect pada matahari yang tepat berada di sisi gunung.
Fisherman by Safruddin Alwi - Golden Hour
Foto fisherman ini contoh lain dari pencahayaan back light. Dengan kondisi kontras yang tinggi terkadang lebih baik menampilkan foto dalam bentuk shilluet. Foto ini saya ambil jam 6 pagi, memotret nelayan yang baru balik melaut. Saya metering ke matahari dengen kompensasi minus membiarkan objek foto saya tenggelam dalam shadow dan membentuk siluet. Namun akhirnya saya meng-crop bagian matahari karena terlalu banyak hotspot dan menyisakan bias cahaya di air berpadu dengan riak ombak. Seperti dijelaskan di atas di waktu-waktu seperti ini saturasi warna-warna aktif sangat dramatis. Kondisi ini saya tingkatkan lagi dengan setting WB yang lebih warm. Karakteristik pencahayaan di waktu pagi setelah sunrise serta sore hari menjelang sunset lebih dikenal dengan istilah golden hour. Karena karakteristik cahaya yang menguning menampilkan warna-warna yang lebih warm.
The Bridge by Safruddin Alwi - Blue Hour
Oposit dari golden hour adalah blue hour yaitu pencahayaan setelah sunset / sebelum sunrise. Setelah matahari tenggelam / atau sebelum terbit sedikit cahaya sudah diterima langit dan menyisakan warna biru berpendar. Contoh foto blue hour ini saya ambil di jembatan ancol menjelang jam 7 malam. Perlu diingat dalam kondisi blue hour pencahayaan sangat minim sehingga biasanya kita menggunakan teknik slow speed dengan memperlama waktu diafragma membuka dan menambah cahaya yang masuk ke dalam sensor. Salah satu efeknya nuansa dreamy dan kapas pada elemen air.

Rangkuman tentang cahaya dalam fotografi, yaitu tentang arah cahaya (side light, front light, dan back light) dan kuantitasnya apakah hard atau soft serta karakteristik lain yang dibawa cahaya perlu dipadukan dengan pemahaman tentang exposure. Secara sederhana adalah bagaimana mengontrol banyaknya cahaya yang diterima oleh sensor kamera. Tentang exposure ini akan ada ditulisan selanjutnya. Dari sejumlah tulisan tentang belajar fotografi saya sengaja menempaktan tulisan tentang exposure belakangan karena tugas mengukur cahaya sudah di handle dengan baik oleh kamera, sehingga lebih penting bagi fotografer untuk memikirkan selain exposure. Yaitu tentang komposisi dan hal penting lainnya yang sangat menentukan pesan dan konsep yang ingin disampaikan.
Color Composition
Warna adalah elemen penting dalam sebuah foto, bahkan menjadi salah satu pertimbangan dalam menata komposisi foto. Untuk pengaturan warna dalam komposisi, saya memberikan referensi berdasarkan prinsip warna dengan color wheel yang menjadi salah satu prinsip utama yang banyak digunakan dalam seni lukis. Sebagai sesama seni visual prinsip-prinsip warna dalam seni lukis tersebut dapat kita terapkan. meskipun tidak se-fleksibel dalam membuat lukisan. Prinsip ini dapat diterapkan saat kita akan mengkombinasikan warna baik warna alami sebuah point of interest maupun dengan bantuan color filter (lihat tautan ini). Konsep Color wheel sudah mengalami pengembangan dengan menambahkan unsur shade dan light disetiap warna, Namun warna dasar tetap terdiri dari 12 dengan prinsip-prinsip utama sebagai berikut: 
  1. Pembagian warna terdiri dari 3 primary color yaitu blue yelow red, Secondary color yang merupakan perpaduan antara dua primary color : green orange violet, dan Tertiary color yaitu perpaduan antara primary dan secondary color. pembagian warna tersebut menentukan hubungan dalam padu padan warna.
  2. Ada 2 Kelompok besar dari 12 jenis warna tersebut yaitu Red s.d Green Yelow disebut warm color/active color biasanya dijadikan warna point of interest. warna Green s.d Violet Red adalah cool color/passive color. warna pasif biasanya dijadikan warna backgroun atau elemen pendukung.
  3. Hubungan dalam perpaduan warna terdiri dari prinsip-prinsip, yaitu complementary relation: perpaduan satu warna dengan warna diseberangnya : blue-orange, red-green, green yelow-violet red, dst. split complementary relation: perpaduan 3 warna yaitu satu warna dengan dua warna disamping complementarinya: blue with yelow orange&red orange,  red with green yelow&blue green, dst. Analogus relation perpaduan warna dengan 4/5 warna gradasinya : orange s.d green yelow, blue green s.d violet red, dst. Triad relation perpaduan tiga warna yang membentuk diagonal pada color wheel : blue-yelow-red, green-oranye-violet, dst.
(Perhatikan gambar color wheel untuk memahami prinsip-prinsip color tersebut).Sebagai contoh saya sertakan foto "Istiqlal ba'da maghrib" yang saya buat dengan bantuan 2 color filter blue and orange.

Dua prinsip komposisi berikut ini adalah pengembangan dari "rule of third" menjadi komposisi spiral fibonacci dan komposisi diagonal. Kedua bentuk komposisi tersebut tetap membagi image dalam tiga bagian utama namun dengan prinsip pembagian yang berbeda. 


 
Fibonacci spiral composition


Fibonacci adalah ahli matematika yang memperkenalkan berbagai perhitungan dan diagram (silakan cek wikipedia). dalam seni fotografi dan seni lukis diagram spiral fibonaccci digunakan untuk membagi 3 bagian image dan menempatkan point or interest. komposisi ini biasa digunakan dengan memanfaatkan bentuk-bentuk lengkungan natural yang dimanfaatkan sebagai leading line ke POI. Contoh penerapan prinsip komposisi fibonacci ada pada foto "seniman angklung" di atas ini.
Diagonal Composition
Komposisi Diagonal dikembangkan dengan menarik garis-garis diagonal dari dua persegi seperti pada gambar. garis-garis diagonal tersebut yang digunakan untuk membagi 3 bagian foto dan penempatan POI pada salah satu intercept diagonal tersebut. Penerapannya biasanya pada image yang tidak mengandung garis horison sebagai elemennya yang umumnya akan menggunakan komposisi rule of third. Sebagai contoh adalah foto batu sindu di tanjung senubing natuna ini. saya memanfaatkan tepi batu sebagai diagonal di bawah foto dan diagonal imajiner antara dua susunan batu yang dipisahkan teluk.

Tiga prinsip komposisi berikut adalah pengembangan dari prinsip komposisi leading line. Leading line dapat berupa garis vertikal/horisontal atau shape. Garis vertikal akan memandu mata ke atas dan memberikan efek jarak ke ketinggian bagi mata. dengan menelusuri vertical line penikmat foto akan merasakan sensasi ruang dan ketinggian dari POI. Contoh foto komposisi ini adalah menara Al-Markaz Al Islami di makassar.
Vertical line composition
Sama seperti komposisi vertical line, komposisi horisontal line dapat memandu mata untuk merasakan efek skala antara besar dan kecil suatu objek, serta nuansa jarak antara jauh dan dekat. Contoh penerapan komposisi ini adalah foto saya di pulau penyengat di pelantar nelayan. di foto tersebut tidak ada objek khusus yang menjadi POI. namun garis horisontal dari jembatan dapat memberikan rasa ke penikmat foto tentang panjangnya pelantar tersebut yang perlahan hilang dalam kabut hujan, serta skala dari pasak-pasak yang perlahan mengecil semakin ke ujung.
Line and Scale Composition
Secara alami mata lebih menikmati untuk menelusuri bentuk dari kiri ke kanan. komposisi S Curve ini mengakomodir sifat alami mata manusia. bentuk "S" curve membantu mata untuk merasakan kedalaman image serta menjelajahi setiap elemen image sampai pada POI.
S Curve Composition
Simple composition dapat menghadirkan kesan kosong dan kesendirian. emosi tersebut dapat disampaikan dengan baik kepada penikmat foto dengan menerapkan komposisi sederhana. Di contoh foto "terjun bebas" di bawah ini menerapkan simple composition dengan memadukannya dengan prinsip komposisi perspective. Komposisi perspektive dibagi berdasarkan angle view terhadap POI. Dapat berupa bird view dengan arah pandang dari atas atau frog view dengan arah pandang dari bawah. keduanya digunakan untuk memberikan efek kedalaman gambar/efek ruang.
Simple and Perspective Composition
Secara umum menata komposisi dalam sebuah foto memiliki tujuan untuk membantu penikmat foto menelusuri setiap elemen foto dan menemukan point of interest serta merasakan emosinya. Di samping itu kesulitan dalam seni visual dua dimensi seperti lukisan dan foto adalah bagaimana menciptakan ruang dalam bentuk 2 dimensi. karena efek ruang tersebut dapat memberikan rasa surealis dan nyata bagi penikmat.

Semoga dapat menambah referensi dan pemahaman untuk membantu kawan-kawan pecinta fotografi untuk lebih menikmati indahnya ruang pandang yang kita bingkai. SALAM.
1 Komposisi Foreground
"Fotonya bagus.. pake kamera mahal ya?.. pake photoshop ya?" Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti ini banyak kita terima saat belajar berfotografi. Padahal untuk orang-orang yang sepakat fotografi itu seni, kamera, photoshop, teknik olah digital hanya sebatas alat menyajikan. Ibaratnya masakan kesemua itu hanyalah wajan, piring saji, dan sendok garpu semata. fotografi tidak sebatas alat semata, lebih dari itu fotografi tentang ide kreatif, ekspresi pesan yang ingin disampaikan. Nah, bagaimana mewujudkan kreatifitas dan pesan dalam visual dua dimensi salah satunya dengan menata komposisi dalam sebuah foto. Sesi belajar fotografi ini saya mencoba membagi referensi pemahaman komposisi. Sengaja saya menerapkannya pada satu objek yang sama agar semakin terlihat dampak dari setiap perbedaan komposisi.
Sekilas tentang objek foto, di foto ini adalah pulau Sahi yang terletak di Natuna. Konon katanya merupakan tempat persembunyian bajak laut alias lanun. Celah-celah pulau karang ini membentuk gua dan menjadi sarang lanun. Tempat ini mungkin tempat paling sering saya datangi dan menjadi objek foto selama di Natuna. Ada "sesuatu" yang membuat pulau ini paling menarik buat saya. Foto-foto berikut tidak diambil di hari yang sama. Dari beberapa kali ke tempat ini saya mengoleksi ratusan foto dengan beragam komposisi yang saya coba. Untuk itu saya rasa baik sebagai contoh untuk belajar komposisi.
2 Komposisi 1/3
2 Komposisi 1/3 Pattern
Komposisi 1/3 atau Rule of Third
Salah satu yang paling basic mungkin, komposisi foto tujuannya untuk memberikan efek dimensi atau agar ada "ruang" yang terasa di dalam foto. Komposisi rule of third ini membagi foto menjadi tiga baris dan tiga kolom dengan garis-garis imajiner. Tujuan pembagian ini untuk mengatur dimana menempatkan garis horison, ruang kosong, dan objek utama sehingga memandu mata untuk menjelajahi dan merasakan keberadaannya. Dengan menerapkan komposisi ini akan ada sejumlah pilihan untuk menempatkan horison, pada sepertiga atas atau sepertiga bawah. Foto 1 : dengan horison di bawah dan banyak ruang kosong di sisi langit (atas) objek pulau menjadi tampak menyendiri dengan kesan agak kosong. Foto 2 : dengan horison di sepertiga atas dan sedikit ruang kosong di sisi kanan serta banyak space di bawah. dengan komposisi ini saya dapat menempatkan pattern yang menarik dari pasir dan memberi kesan jauh dari pulau tersebut. Seperti sebuah rute perjalanan ke pulau tersebut.
3 Elemen dalam komposisi
Elemen dalam Komposisi
Objek utama, garis horison, foreground, background, dan elemen lain dapat menjadi cerita yang utuh jika ditata dengan baik. Untuk mengambil foto ini saya berjalan memutari pulau mencari komunikasi yang baik antar setiap elemen dan jadilah foto ini. Dengan efek distorsi lensa wide FG tanaman laut seperti membentuk dimensi dari besar ke kecil di kejauhan. Filter CPL membantu saya menangkap refleksi mirroring pulau ke air. Dan saya menempatkan objek di sisi kanan dan mendapati serat-serat awan yang seolah bergerak ke arah pulau. Tambahan sedikit kesabaran memberikan saya kesempatan mengambil foto pulau ini saat seorang nelayan tepat berada disampingnya. Scale effect, ukuran tubuh manusia yang ada disamping objek ini dapat memberikan deskripsi dalam pikiran seberapa besar ukuran pulau ini. Pasti akan menjadi lain ceritanya jika saya menempatkan objek dengan BG langit biru saja, atau tanpa refleksi, atau tanpa nelayan yang berdiri dan atau-atau lainnya.

Foreground dalam komposisi
Temukan sesuatu yang menarik dalam foreground. FG dapat menjadi balancing atau symbiotic dengan point of interest (objek utama). Bahkan FG dapat menjadi POI itu sendiri. Ada banyak elemen yang dapat dijadikan FG yang menarik, bisa jadi batu, tanaman, selembar daun, pattern, orang, atau apapun. Pilihan FG akan menentukan cerita keseluruhan sebuah foto. FG tertentu akan menjadi scale effect atau leading the eye atau symbiotic dengan POI. Menatanya dalam komposisi yang akan menentukan seperti apa rupanya. Salah satu keunikan pulau Sahi ini pantai disekitarnya dikelilingi oleh bintang laut. Di foto pertama Saya menjadikan jejeran bintang laut dengan formasi menarik ini sebagai FG. Bintang laut ini tertutup air laut dangkal yang jernih, dengan posisi cahaya dari samping kejernihannya perlahan hilang berganti riak kecil ombak ke arah pulau. Saya ingin menangkap harmoni di ekosistem ini.   
4 Komposisi Leading Line
Leading Line dalam Komposisi
Sudah dibahas sekilas sebelumnya, bagi mata manusia tidak menarik jika mata langsung menuju ke POI karena mata senang menjelajah. Ide komposisi ini memanfaatkan sifat alami mata manusia tersebut. Dengan memberi alur bagi mata untuk menelusuri elemen-elemen foto sampai kepada POI. Leading line lazimnya digunakan untuk foto landscape urban, perkotaan, atau nightscape. Karena banyak elemen buatan manusia yang berbentuk simetris atau line (jalan, trotoar, garis rambu, dll). Tapi di foto nomor 4 ini saya tertarik memanfaatkan line alami, garis pantai. Melihat dengan seksama buih tipis air laut saat menyentuh pantai membentuk pola garis yang indah. Saya harus mundur jauh dari tempat bintang laut tadi mencari cekungan pantai yang unik agar pola line ini menarik dan menyatu dengan objek pulau Sahi. Baik komposisi dengan foreground atau leading line ini, orientasi (format landscape atau portrait) bisa sangat mempengaruhi hasil. Kebetulan di foto ini saya memilih menggunakan format portrait agar line pantai tampak lebih panjang.
5 Komposisi Framming
Framming / Membingkai POI
Dalam portrait atau human interest komposisi ini sangat populer. Dalam foto landscape kita bisa memanfaatkan elemen-elemen selain POI seperti celah batu, pepohonan, sela-sela ranting atau daun untuk membingkai objek. Penataan yang baik elemen framming dengan objek akan membangun symbiotic dengan POI dan harmonisasi yang indah. Dalam foto ke 6 yang menjadi elemen framming saya adalah cerucuk perangkap ikan nelayan. Foto ini dari sisi berlawanan pulau tempat saya mengambil foto-foto sebelumnya. Tak jauh dari pulau ada kehidupan nelayan disana. Satu hal yang penting terlalu banyak elemen dalam foto framming akan membuat distract dan membingungkan untuk dinikmati. Saya beruntung mendapatkan langit yang bersih dan cahaya matahari sore yang warm di puncak pulau.
6 Komposisi Ekstrem / Breaking the rule
Breaking the Rule
You must understand the rule to breaking the rule.. Sisi enaknya fotografi bukan pelajaran matematika yang harus pas atau kuliah hukum yang harus taat aturan. Ini hal bebas merdeka untuk berkreatifitas. Sebelum orang lain menikmati kita sendiri harus puas dan menikmati objek foto kita sendiri. So forget the rule.. and just do what you want to do!! Di foto terakhir saya tidak membagi 1/3 bagian, horison saya tempatkan tepat ditengah dan membiarkan sebagian kamera terendam dalam laut. Meskipun kadang akan membosankan menempatkan Objek tepat ditengah, tapi justru saya tertarik membuatnya tampak simetris. Karena aneh itu unik tidak masalah sesekali menampilkan yang aneh.. saran saya hati-hati kalau ingin mencoba trik ini camera safety first.

Semoga bermanfaat, SALAM.






Filter sesuatu yang sangat akrab dan menjadi aksesoris hampir wajib untuk keperluan fotografi landscape karena sebagian besar foto landscape hanya mengandalkan available light. Tujuan filter-ing untuk menyiasati beberapa kondisi yang tidak dapat dimanipulasi dengan setting yang ada di kamera, selain itu ada beberapa efek tertentu yang ingin dihadirkan dalam foto yang hanya bisa didapatkan dengan menggunakan filter. Alat memang diperlukan dalam fotografi termasuk filter, namun jangan sampai ketidakpunyaan alat menghambat kreatifitas kita, nah.. selain membahas penggunaannya saya juga memberi penjelasan tentang prinsip kerja filter tersebut dan saran untuk mensiasati jika ingin mendapatkan efek yang sama tanpa filter. Jika diurai berdasarkan kegunaannya ada 3 jenis filter yang paling sering digunakan untuk foto landscape. Berikut penjelasan dan contoh penggunaannya dalam pengambilan foto:

Polarizer / Circular Polarizer / CPL
Warna dan kontras yang ditangkap oleh kamera sangat bergantung dengan jumlah cahaya yang diterima oleh permukaan objek foto, Jika cahaya yang diterima terlalu banyak warna dan kontrasnya akan berkurang bahkan wash out atau putih polos dan berlaku pula sebaliknya. Nah filter polarizer digunakan untuk meningkatkan saturasi (kekuatan warna) dan kontras yang mana sering menjadi elemen "penggoda" dalam foto landscape. Prinsip kerjanya filter ini memblok atau mentransmisikan cahaya pada permukaan objek, sehingga dengan filter ini kita dapat memperoleh efek yang berbeda terhadap warna dan kontras objek terutama suatu objek yang bersifat memantulkan cahaya atau bersifat bening. Versi yang lebih fungsionalnya adalah Circular Polarizer atau CPL yang lebih manfaat karena dapat dikontrol dengan memutar ring filter. Saya gunakan filter CPL di foto pantai Natuna ini. dengan mengatur ring filter kita bisa mendapatkan efek air yang jernih dan birunya langit yang pekat.
Bening, Fotografer : Safruddin Alwi Using CPL
Saat ingin memotret suatu objek tertutama yang menampilkan langit biru dan air yang tenang namun tidak ada filter CPL, cobalah untuk menghindari direct light dan membelakangi cahaya. Efek kontras akan terasa saat posisi kamera tidak searah dengan sumber cahaya. sebagai contoh saat masih pagi dan sumber cahaya matahari dari timur warna akan cukup kontras jika pengambilan gambarnya dari sisi utara/selatan.

Gradual Netral Density (GND) dan Netral Density (ND)
Filter ini terkait dengan exposure, kamera didesain seperti mata manusia namun kemampuan range  ke-terang-an-nya (brightness)masih kalah dibanding mata manusia. Secara umum kamera hanya dapat menangkap range brightness sekitar 5 stop, sehingga pada kondisi range brightness sangat lebar metering kamera menjadi tidak akurat di area yang sangat terang / sangat gelap dan kondisi seperti ini adalah kondisi yang sangat umum pada objek foto landscape (baca teori tentang zone system). Untuk memanipulasi keterbatasan tersebut digunakanlah filter GND dan ND. Prinsip kerjanya filter ini adalah kaca gelap untuk mengurangi jumlah cahaya yang akan masuk ke lensa, dengan jumlah cahaya yang lebih sedikit kita bisa menggunakan diafragma yang lebih besar atau speed yang lebih lambat. Perbedaan antara GND dan ND, pada filter GND kegelapan kaca tidak merata hanya pada sebagian kaca filter baik itu soft gradual atapun hard gradual, dan pada filter ND kegelapan kaca merata diseluruh bagian. Kita sering menjumpai kondisi dimana sisi langit jauh lebih terang dibanding foreground, sehingga saat kamera metering ke FG sisi langitnya akan wash out / putih polos/ over exposure dan sebaliknya saat metering ke langit FG akan terlalu gelap. untuk mendapatkan exposure yang imbang antara langit dan FG kita perlukan filter GND dengan memasang sisi gelap filter dibagian atas sehingga foto (sisi langit maupun FG) dapat terexpose dengan baik (tidak over disisi langit dan tidak under disisi FG). Sedangkan manipulasi exposure dengan filter ND jika kita ingin menggunakan teknik slow speed pada kondisi cahaya yang sangat terang. Dengan filter ini kamera dapat mengkompensasai kecepatan lambat pada diafragma yang sesuai. contoh penggunaannya ada pada tulisan INI    
Teluk Mata Ikan, Fotografer : Safruddin Alwi Using GND Filter
Kondisi range cahaya yang sangat lebar juga dapat disiasati dengan membuat foto HDR dengan menggabungkan beberapa foto dengan exposure berbeda. Yang perlu diperhatikan adalah tingkat kegelapan filter disesuaikan dengan kompensasi exposure yang ditandai dengan angka kelipatan 2 pangkat xx atau angka kelipatan 0,3 pilihlah filter GND/ND yang sesuai dengan kondisi yang sering kawan-kawan potret.

Colour filter
Seperti saya sampaikan di awal tadi, warna sering menjadi elemen penggoda pada foto landscape. Jenis filter ini dibuat untuk memberikan efek-efek warna tertentu pada foto. Jenisnya cukup banyak, berikut beberapa  yang umum digunakan. Warm filter yang memberikan efek warna yang kekuningan seperti pada kondisi sunset/sunrise. Blue filter memberikan efek warna kebiruan yang paling banyak digunakan untuk membirukan bagian langit atau pada pemotretan nightscape/blue hour. Strip filter adalah filter warna berupa garis strip gradual dengan berbagai pilihan warna. biasa dipasangkan pada bagian horison/matahari untuk memberi gradasi warna. Kombinasi beberapa warna, juga terdapat beberapa filter yang menggabungkan gradasi dari 2 warna tertentu. Tanpa filter ini efek serupa hanya dapat diperoleh dengan olah digital.
Istiqlal, Fotografer : Safruddin Alwi Using Colour Filter
That's all.. sharing tentang filter kali ini. saran terakhir saya, sebelum memilih untuk membeli filter sebaiknya kawan-kawan mencoba terlebih dahulu. Karena beberapa merk filter akan mempengaruhi WB kamera yang biasa disebut "colour cast".

Gerhana Bulan

Sabtu malam yang lalu adalah gerhana bulan terakhir di tahun 2011, salah satu momen yang jarang terjadi sehingga memerlukan persiapan dan rencana untuk mengambil gambar agar meminimalisir kesalahan dan kemungkinan kehilangan momen. Selain itu sangat tergantung dengan kondisi cuaca dan lokasi pengambilan gambar. Alat apa saja yang diperlukan? peralatan minimalnya yang harus ada yaitu : kamera, semakin tinggi resolusinya semakin baik dan semakin rendah noise semakin baik. hal ini karena kita memotret dalam kondisi gelap dan dalam kondisi tertentu perlu dilakukan cropping. Lensa, semakin tele lensanya semakin baik. Sebaiknya menggunakan lensa super tele dengan focal length 400 atau lebih. Alat lain yang diperlukan tripod yang steady dan kabel realeasi untuk memudahkan.
Bagaimana dengan setting kamera dan exposure? setting kualitas gambar di posisi terbaik, di foto ini saya setting kualitas gambar RAW + JPEG Fine untuk cadangan dengan resolusi maksimal, tujuannya untuk menjaga ketajaman gambar. Karena pengaruh bayangan saat gerhana dan perubahan kuantitas cahaya akan mempengaruhi tone bulan, Jadi WB saya setting manual supaya tone warna bulan konsisten, pilih angka suhu sesuai dengan konsep yang ingin ditampilkan, setting cool jika ingin bulan tampak agak kebiruan atau disetting warm agar bulan tampak jingga dan kuning.
Setting exposure sebaiknya manual agar kita punya full control terhadap jumlah cahaya yang ingin dimasukkan dan karena kita tidak perlu terburu-buru dan punya banyak waktu untuk persiapan. Setting exposure dengan menitikberatkan pada bagian terang dari bulan. Bukaan diafragma cukup kecil saya mulai di diafagma 9 dengan setting speed diubah sampai bagian paling terang tidak wash out. Seiring bagian terang dari bulan semakin banyak diafragma dibuka semakin kecil sampai di bukaan 13 dengan speed disesuaikan agar tidak wash out dan kegelapan. Setting dynamic range saya buat cukup tinggi agar gradasi antara highlight dan shadow cukup smooth.
Moon Series
Hal lainnya mungkin tentang pengambilan gambar, proses gerhana cukup lama berlangsung kira-kira 2 jam dan saya mengambil gambar series setiap 10 menit atau ada perubahan yang cukup signifikan pada posisi bulan di foto ini saya mengambil sekitar 80an gambar. Akan tampak menarik pergerakan bulan tersebut jika foto-foto tersebut digabung dalam kolasi.

Sekian dulu sharing saya, smoga bermanfaat.. SALAM.

Berbagi ceritera di akhir bulan ini "Main-main di Hang Nadim"

Big Four, Lokasi : Hang Hadim Airport, Batam
Sekilas fakta tentang bandara Hang Nadim Batam :
Bandara Hang Nadim memiliki panjang runway 4.040 meter, merupakan bandara dengan runway terpanjang di Indonesia dan Asia Tenggara. Bandara ini dibangun di era kepemimpinan Bapak BJ Habibie sebagai ketua otorita batam yang merupakan salah satu proyek megastruktur di batam selain jembatan Barelang (merupakan jembatan terpanjang di indonesia sebelum Suramadu). 


Walk Around, Lokasi : Hang Hadim Airport, Batam
Di awal pembangunannya,  proyek bandara ini dianggap ide gila dan merupakan proyek mubazir dikarenakan saat itu penduduk batam hanya 6.000 jiwa dan sebagian besar masih berupa hutan. Namun sejak beroperasi 1995, Hang Nadim menjadi salah satu bandara tersibuk di Indonesia dengan 250 kali penerbangan dalam seminggu dan menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi di Batam dan Kepulauan Riau yang mencapai growth 2 digit beberapa tahun terakhir ini.

Touch And Run, Lokasi : Hang Hadim Airport, Batam
Tidak hanya pesawat sekelas Boeing 737 yang dapat mendarat disini, Pesawat Jombo Jet sekelas Boeing 767 atau Airbus A330 sekalipun dapat melakukan pendaratan dan take off di Hang Nadim.

Landing, Lokasi : Hang Hadim Airport, Batam
Quote For Today :
Kamera terbaik adalah kamera yang ada ditangan anda saat akan mengambil momen..
Postingan Lama Beranda

Latest Posts

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Tutorial Photoshop : False Color
  • Tutorial Memilih dan Menggunakan Filter Untuk Foto Landscape
  • Belajar Fotografi : Membuat Foto Siluet (Silhouette)
  • Tutorial Photoshop : Mengedit Warna dan Tone Sebuah Foto
  • Belajar Fotografi : Lebih Lanjut Tentang Komposisi
  • Wisata Natuna : Senoa, Pulau Ibu Hamil yang Mempesona
  • Tutorial Photoshop : Membuat Foto Montase (Montage)
  • Sebuah Liputan Lomba Dragon Boat Tanjungpinang (Photo Essay)
  • Warung Kopi Alias Kopitiam Favoritku

Top List

  • Belajar Fotografi : Melukis Dengan Cahaya
  • Pesona Pantai Kawasan Wisata Lagoi
  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Singkat Cerita Tentang Danau Toba
  • Belajar Fotografi : Komposisi Foto Landscape

Search

Happy Daddy Story

Copyright 2010 Aftertaste Blog.
Blogger Templates Designed by AfterTaste