• Home
  • Photography
    • Landscape and Nature
    • People and Street
    • Portrait and Models
    • Belajar Fotografi
    • Tutorial Photoshop
  • Coffee Corner
  • Aftertaste Story
  • Gallery
    • Landscape and Nature
    • Human Interest
    • Black and White
    • Instagram
  • Travel
  • About

Aftertaste Blog

By Safruddin Alwi

Obyek Wisata Rammang-Rammang Maros - Safruddin Alwi
Mari kita ngobrol fotografi lagi, lamanya tak terkira tidak ada tulisan tentang fotografi lagi di blog ini. Mubazir sebenarnya mengingat banyak sekali obyek foto alam dan tempat wisata yang "Seksi" untuk diabadikan di wilayah Sulawesi Selatan. Hambatannya selalu saja masalah waktu, satu-satunya sumber daya yang tidak ada gantinya. Berhubung si empunya blog lagi "kurang piknik", maka akhir-akhir ini lebih banyak postingan tentang dunia jejak rasa yang satu lagi. Kopi. 
Menyusuri Hutan Bakau Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Rammang-Rammang, obyek wisata yang baru mulai populer dalam satu atau dua tahun terakhir ini. Merujuk ke namanya, rammang-rammang sebenarnya nama sebuah dusun di Kabupaten Maros. Tentang maros yang dikenal masyarakat sebagai tempat wisatanya mungkin air terjun bantimurung dan gua pra-sejarah leang-leang. Lalu apa istimewanya rammang-ramang? jawabannya banyak, B-A-N-Y-A-K. Jarak tempuh dari kota makassar terbilang tidak terlalu jauh, satu jam-an dari makassar dengan mengendarai mobil. Genre-nya wisata alam, dengan level daya tarik bintang 3,5 ++. keindahan alam yang bisa dinikmati tidak hanya setelah sampai di dusun rammang-rammang itu sendiri. Perjalanan menunju ke obyek utamanya juga sangat layak untuk di nikmati. 
Warga Dusun Rammang-Rammang
Rammang-rammang sebenarnya dusun yang indah namun terisolir diantara hutan bakau dan tebing-tebing batu kars. Nilai minusnya selalu saja masalah infrastruktur dan fasilitas. Tidak ada akses darat langsung untuk menuju ke sana. Setelahnya perjalanan dengan mobil dari makassar, kita sampai di sebuah dermaga yang penuh dengan perahu mesin tempel. Nah, perahu inilah yang akan mengantarkan kita menuju rammang-rammang. Menyusuri hutan bakau dan tebing-tebing kars yang "menyembunyikan" rammang-rammang dari dunia luar. Keseruan perjalanan dengan perahu ini tidak kalah istimewa dibandingkan dengan obyek wisata utamanya itu sendiri. 

Dibandingkan obyek wisata pantai, belum banyak yang meng-eksplor keindahan hutan bakau di Indonesia. Padahal dengan penataan yang berkonsep dapat dibuat jalur-jalur petualangan yang menarik ditambah suguhan pemandangan yang fotografis. obyek wisata hutan bakau dapat dijadikan andalan pariwisata yang ramah lingkungan. Perjalanan dengan perahu bisa ditempuh selama 40 menit kurang lebih. Anda bisa meminta supir perahu untuk memperlambat atau memperlaju. Dengan perahu kita akan dibawa berkelok-kelok diantara mangrove dan menyusupi celah-celah karang sambil mengagumi tebing-tebing batu yang hijau. Sensasi dan atmosfer nya jelas akan memberikan pengalaman berbeda. Sesekali kita akan berjumpa dengan penduduk lokal yang memang selalu melewati jalur tersebut. Baik untuk memancing ataupun memang tujuannya keluar ke kota. Saran saya untuk perjalanan ini, jika anda berangkat siang hari jangan lupa membawa topi atau menyewanya di didermaga sebelum perjalanan dengan perahu ini. cuaca cukup panas dimusim kemarau.  
Tambak Ikan Rammang-Rammang
Sensasi di rammang-rammang nya sendiri tidak kalan dengan perjalanannya. Hanya ada beberapa rumah di Dusun ini, dan rata-rata mereka masih keluarga yang tinggal dan menetap di dusun rammang-rammang sejak dulu. Mata pencarian mereka adalah bertani dan tambak ikan. Petak-petak sawah dan tambak yang membentang diantara tebing-tebing batu yang menjulang ini lah yang jadi suguhan pemandangan yang indah. Terlebih saat bulir-bulir padi tersebut mulai menguning keemasan. Untuk sebuah obyek wisata ber-genre alam, maka semakin alami suguhan keindahannya akan semakin istimewa. Saya membayangkan keindahan tebing-tebing batu di rammang-rammang suatu saat bisa disandingkan dengan Li river china. Bahkan rammang-rammang bisa memberikan pengalaman lebih yang mungkin sulit ditemukan di tempat lain.

Menyusuri petak-petak sawah menunju kaki tebing-tebing batu tersebut. Tersimpan rahasia pra-sejarah. Di spot-spot tertentu kita bisa melihat lukisan-lukisan pra-sejarang di dinding-dinding batu yang sama seperti di gua leang-leang. Untuk yang terakhir saya sebutkan sudah ada beberapa penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa lukisan-lukisan pra sejarah tersebut berumur ribuat tahun sebelum masehi. bahkan diungkap umurnya lebih tua dari lukisan gua yang ditemukan di spanyol. Sayangnya saya tidak menemukan adanya referensi yang menyatakan pernah meneliti lukisan gua di rammang-rammang. Lukisan ini berbentuk telapak tangan sebelah kanan, yang pasti ukurannya lebih besar dari tangan saya. Lukisan telapak tangan biasanya dikaitkan dengan ritual potong jari sebagai bentuk berkabung di budaya masyarakat pra-sejarah. Wallahualam, berbicara kisah pra-sejarah akan selalu lebih banyak untold story nya.
Lukisan pra-sejarang Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Saya tidak cukup paham dan ahli terkait lukisan pra-sejarah tersebut jadi sekedar menikmati keunikan dan untold story dibalik itu semua. Bagian lucunya, permukan tebing-tebing batu tersebut diantaranya membentuk permukaan yang unik. Salah satunya adalah bentuk muka yang sangat besar dan menyeramkan. Masyarakat setempat menamainya batu kingkong. Bentuk wajah tersebut diidentikkan dengan wajah seekor kingkong. Pendapat saya, bentuk tersebut cukup mirip dengan wajah kingkon. Yang pasti bukan wajah saya haha.
Batu Kingkong Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Betul sekali memang, jika disebutkan rammang-rammang belum cukup wah !! masih sangat banyak yang perlu di benahi. Sewaktu mengunjungi rammang-rammang saya bertemu dengan beberapa rombongan wisatawan asing. sayang sekali fasilitas untuk menjamu para wisatawan masih minim. hanya ada satu dua bale-bale yang bisa dipakai untuk beristirahat. Tidak ada pilihan tempat makan selain warung yang menyediakan kelapa muda dan pop mie. Jadi sebaiknya sebelum berkunjung siapkan bekal, terutama jika anda mengajak anak-anak. Saya memimpikan rammang-rammang dengan segala keunikannya akan menjadi obyek wisata populer tidak hanya di Indonesia. Jalur perjalanan diantara bakau dan mangrove bisa sangat menarik dengan melewati tepian tebing-tebing dan menyusuri gua-gua yang terbentuk karena abrasi.
Refleksi Indang Rammang-Rammang - Safruddin Alwi
Saya juga membayangkan wisatawan dibuat kagum dengan rahasia cerita pra-sejarah yang pastinya akan menjadi petualangan menarik. Seharusnya rumah-rumah disini dibangun dengan model rumah adat yang menjual sisi etnik arsitektur rumah khas sulawesi. Kesemuanya jika dipadu dengan keelokan alam yang sudah cantik dari sononya ini akan menjadi sangat luar biasa. 


Sekian dulu, semoga bisa menjadi panduan kawan-kawan mengenal alam indonesia. SALAM.
Pantai Pa'badillang by Safruddin Alwi
Tempat pertama yang saya kunjungi setelah pindah domisili ke Makassar adalah adalah Selayar, bahkan sebelum saya sempat ke pantai losari. Selayar salah satu kabupaten terjauh dari Kota Makassar, lebih-lebih lagi dikarenakan kondisi geografisnya yang kepulauan dan terpisah dari pulau utama Sulawesi. Jika kawan-kawan cukup akrab dengan bentuk pulau Sulawesi yang mirip huruf "K" Selayar ada di kaki kanan pulau Sulawesi. Bentuk kepulauan selayar menyebar cukup luas ke arah Sulawesi tenggara dan ke arah laut banda. Kondisi geografis tersebut memberi "tantangan" tersendiri untuk sampai ke selayar. Kita perlu bergonta-ganti moda transportasi untuk sampai ke Benteng, Ibu kota Selayar. Tentunya sajian pemandangannya juga beragam.
Menikmati perjalanan
Berangkat dari Makassar kita bisa menggunakan bus atau travel minibus sekelas Innova. Kita harus mencapai pelabuhan Tanjung Bira jika ingin menyeberang ke Selayar. perjalanan tersebut ditempuh selama 4 s.d 5 jam dari Makassar. Rata-rata kendaraan yang digunakan cukup baik, tentunya terkecuali untuk kelas low budget. Ada feri yang cukup besar dan bolak-balik 2 kali sehari untuk menjembatani Tanjung Bira dan Selayar. Pelabuhan tanjung bira tidak hanya digunakan untuk feri penyeberangan, namun juga sebagai pelabuhan kapal-kapal pinisi. Ya, Tanjung Bira sudah lama dikenal sebagai tempat pembuatan kapal pinisi. Feri penyeberangan sudah siaga ketika kami sampai di bira. Di dalamnya berjejalnya beraneka macam karya manusia yang hidup dan yang tidak hidup.

Di atas perahu
Tidak mewah mungkin tapi cukup representatif bagi masyarakat yang membutuhkan transportasi penyeberangan. Rute feri penyeberangan ini melewati beberapa pulau kecil antara selayar dan bira. Pemandangan yang tersaji cukup menghibur perjalanan, dan ada kantin mini untuk mengisi perut jika lapar. Sebelum kapal berangkat cukup banyak pedagang yang naik ke kapal menjajakan. Satu yang tidak enak di waktu-waktu tertentu cuaca tidak kondusif untuk dinikmati. Berikut beberapa foto snapshot sepanjang perjalan menuju selayar dan perjalanan mengelilingi beberapa pulau hinterland di selayar.
What I see
Selayar secara keseluruhan tidak jauh berbeda dengan Kepulauan Riau, karena secara geografis sama-sama berbentuk kepulauan dengan pantai-pantai yang indah dan spot-spot snorkling menarik untuk mengintip dunia bawah lautnya. Namun tentu saja alam Selayar punya sisi unik yang berbeda dan budaya masyarakat setempat memberi warna yang berbeda. referensi baru untuk dikunjungi.
Dunia di bawah pasir by Safruddin Alwi
Pulau Selayar berbentuk memanjang dari utara ke selatan. Karenanya pantai-pantai di selayar menjadi tempat yang menarik untuk menikmati sunset dan sunrise. Namun beberapa spot pantai aksesnya masih sulit. Berikut shortlist untuk dikunjungi jika anda sedang berada di selayar. Pantai Pa'badillang, Jika kita mengunjungi selayar lewat jalur darat maka kita akan sampai di pelabuhan feri pamatata. Berjarak kurang dari 1 km kita bisa mencapai pantai Pa'badillang. Di pantai ini ada bagian pantai berpasir putih dan bagian pantai karang yang cukup tinggi. Bentang pantai pasirnya terbilang panjang dengan kejernihan air laut yang masih terjaga.
Tenggelam di antara sampah
Buruknya di musim barat, sekitar bulan desember s.d februari banyak tumpukan sampah dipantai ini. Mungkin saat kita berada di tengah laut kita menganggap sepele untuk setiap potongan sampah kecil yang kita buang. Namun dengan banyaknya kapal yang berlayar dan arus laut yang mengarah ke sisi pantai ini pada musim barat. Kita akan melihat dampak sampah yang kita anggap sepele saat berlayar dan membuangnya di tengah laut. Miris sekali, padahal pantai ini jadi habitat alami biota laut yang banyak bersembunyi di balik pasir.
Liang Kareta by Safruddin Alwi
Liang kareta, sekilas dari namanya sebagian dari kita mungkin akan mengasosiasikan dengan bentuk karang di pantai ini yang berbentuk liang (lubang) karena abrasi. Namun apa hubungannya dengan kareta (kereta) ?? Singkat cerita nama Liang Kareta tidak ada hubungannya sama sekali dengan liang maupun kereta. Nama tersebut adalah nama seorang penduduk yang melegenda di tempat ini. Liang kareta terletak di pulau terpisah. kira-kira butuh perjalanan 15 menit dengan Joloro (perahu motor) untuk sampai ke Liang kareta dari pelabuhan bontoharu. Namun karena perjalanan tersebut melalui perairan antar pulau Saya sangat yakin tidak akan membosankan. Pemandangan sepanjang perjalanann  sangat indah. Tidak berhenti disitu saja. sesampainya di Liang kareta kita akan disuguhkan alam yang istimewa. bentuk karang yang unik menyerupai gua karena abrasi. Air lautnya sangat jernih ditambah terumbu karang yang menarik untuk dijelajahi.
Pulau Tinabo by Safruddin Alwi
Permata bagi Selayar adalah taman nasional Takabonerate. Takabonerate sendiri sebenarnya sebuah nama kecamatan yang wilayahnya terdiri dari gugusan pulau-pulau. Nah perairan antara pulau-pulau kecil tersebut menjadi sarang terumbu karang atol terbesar. Pulau Tinabo menjadi base pengelolaan taman nasional tersebut. Tinabo tidak terlalu luas, hanya dengan berjalan kaki 15 s.d 20 menit kita sudah bisa sampai dari ujung pulau ke ujung yang lain lagi. Bentuk pulau memiliki teluk-teluk kecil yang pas untuk berenang dan menikmati karang. Kejutannya anak-anak ikan hiu sering menepi ke air dangkal, jadi para pengunjung bisa berenang dengan anak-anak hiu tersebut. Cukup dengan membawa umpan beberapa potongan ikan.
Pantai Pulau Tinabo by Safruddin Alwi
Namun butuh perjuangan lebih untuk sampai ke pulau Tinabo ini. Dari selayar kita perlu menggunakan kapal untuk perjalanan 5-6 jam untuk sampai ke Takabonerate. Dari Takabonerate kita masih perlu lanjut perjalanan dengan kapal 2 jam. Perlu diperhatikan pulau Tinabo hanya dihuni petugas taman nasional dari Kementerian Kehutanan. Tidak banyak supply kebutuhan sehari-hari di Tinabo, jadi sebaiknya persiapkan segala sesuatunya di Selayar atau Takabonerate.
Nekara dan Jangkar Bersejarah by Safruddin Alwi
Kembali ke Selayar, yang tidak hanya menawarkan alamnya yang indah. Selayar cukup kaya dengan sejarah. Posisinya di jalur pelayaran jaman dahulu kala tidak hanya oleh kapal-kapal dari nusantara. Karena posisinya strategis penajajah belanda dan portugis juga sempat menancapkan kekuasaannya di Selayar. Kita masih bisa melihat sisa-sisa kejayaan para penjajah di Selayar. Juga beberapa persenjataan perang untuk melawat penjajah tersebut masih bisa kita jumpai, meriam-meriam berumur ratusan tahun. Di antara peninggalan sejarah yang paling terkenal di Selayar adalah Nekara perunggu dan jangkar tua. Diperkirakan nekara tersebut merupakan peninggalan dari jaman perunggu di asia kira-kira 1000 tahun SM. Nekara tersebut kemudian ditemukan oleh petani pada tahun 1686. Sejak masa itu nekara tersebut disimpan di sebuah rumah di Bontoharu. Uniknya asal usul nekara tersebut belum diketahui secara pasti.
Jangkar tua yang ada di desa Padang bontoharu merupakan peninggalan kapal saudagar cina bernama Gowa Liong Hui sekitar abad 17 s.d 18. Kapal milik Gowa tersebut sangat besar sehingga membutuhkan jangkar yang juga sangat besar dengan panjang lebih dari 2 meter. Kapal tersebut merupakan kapal dagang yang sedang singgah di desa padang untuk mengisi air, namun kemudian mengalami kerusakan. Jangkar dan meriam kapal tersebut kemudian diambil oleh warga. Tak terbayangkan sebelumnya jika pulau kecil bernama Selayar memiliki peninggalan sejarah yang sudah sangat tua ratusan bahkan mungkin ribuan tahun.
Pantai Karang di Selayar by Safruddin Alwi
Saat sore hari menjelang malam, saya menyarankan kawan traveler ke bagian pantai karang pa'badillang. Tepian pantai selayar tidak semua dihuni pasir putih yang melankolik. di beberapa sisi batu karang yang cadas dan curam berbatasan langsung dengan air laut. Jika dikelola dengan profesional tempat-tempat tersebut tidak akan kalah indah dibanding pantai-pantai karang di bali. Di pantai pa'badillang terdapat teluk yang berbentuk hampir bulat utuh dikelilingi tebing karang dengan suguhan pemandangan yang pasti berkesan saat sunset ataupun sunrise.
Sunset di Selayar by Safruddin Alwi
Sekian coretan perjalanan saya kali ini.. Salam :)
Tongkonan Dengan Atap Batu yang Berusia Ratusan Tahun
Toraja menempati wilayah pegunungan yang subur di bagian utara Sulawesi Selatan, yang secara administratif sekarang dimekarkan menjadi Tana Toraja dan Toraja Utara. Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, Toraja sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda sebagai sumber hasil bumi. Lereng-lereng gunung di Toraja sebagian besar di sulap menjadi persawahan yang hijau nan subur. Belum lagi jika kita ingin membahas produk unggulan perkebunannya, Kopi Toraja. Saya yang pecinta kopi seperti anak kecil yang tersesat di toko permen. Sejak hari pertama daftar oleh-oleh posisi satu dan dua sudah diisi dengan kopi arabika dan robusta dari Toraja. Orang bugis menyebutnya To Riaja, masyarakat yang tinggal dipegunungan. Kurang lebih mungkin seperti itu asal usul kata Toraja, sekalipun ada versi lain dari cerita ini. Budaya dan tradisi masyarakat toraja merunut sejarah yang panjang ke belakang bahkan sejak jaman batu menhir dan animisme. Kali ini saya akan membagi sensasi berwisata yang tidak biasa di Toraja, Sulawesi Selatan. Menengok situs arkeologi dan peninggalan sejarah yang tidak tersimpan di museum namun tetap menjadi bagian dari keseharian masyarakat, dan memotret keindahan alam serta budaya Toraja.
Tanah Subur To Riaja
Beberapa tempat wisata sudah cukup populer dan menjadi daftar wajib untuk dikunjungi selama di Toraja. Sebut saja jejeran tongkonan, kuburan batu dan pusat kerajinan Ketek Kesu' yang berada di Rantepao Toraja Utara. Dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dari Kota Makale. Secara umum tempat ini cukup representatif dengan parkiran yang cukup luas dan tersedia toko-toko souvenir yang menjual ukiran serta kerajinan lainnya sebagai buah tangan. Daya tarik utama dari Ketek Kesu' adalah barisan rumah tongkonan yang masih asli. Tongkonan yang lebih modern dibuat dengan atap spandek dan beberapa sudah menggunakan rangka beton dan dinding bata. Namun di sini rumah tongkonan dibuat dengan atap bambu yang disusun membentuk kurva serta rangka yang seluruhnya terbuat dari kayu yang disampung dengan pasak. Tradisi di Toraja tongkonan dibuat harus menghadap utara dan terdiri dari dua bagian, tongkonan yang berukuran besar sebagai rumah tinggal dan tongkonan yang lebih kecil digunakan sebagai lumbung padi.
Ketek Kesu'
Tempat lainnya yang juga sudah cukup populer adalah Londa, yang relatif lebih dekat dari Malake. Londa adalah tempat pemakaman. Budaya Toraja sangat lekat dengan upacara pemakaman dan tradisi memakamkan jenazah dengan menempatkan sang jenazah dalam gua atau tebing batu yang dipahat membentuk liang. Ada sedikit pergeseran budaya. Mungkin karena tidak mudah mendapatkankan tempat di gua atau membuat liang di tebing batu untuk menempatkan jenazah, saat ini sebagian masyarakat membuat semacam bangunan rumah sebagai tempat persemayaman jenazah keluarga. Di Londa masih terdapat gua alami dan tebing batu yang digunakan untuk menyimpan jenazah. Jasad yang mungkin sudah berusia ratusan tahun hingga yang masih baru ada di gua londa ini. Saat berziarah masyarakat setempat terbiasa menyimpan uang receh dan rokok di dekat tulang belulang jenazah. Sayang sekali beberapa tempat jenazah telah rusak dan tulang belulang jenazah yang mungkin sudah tidak dikenali digabung disatu tempat secara acak.
Kuburan Batu
Gua Londa
Di suatu waktu saya melakukan perjalanan di daerah Rembon dan saya mendapat cerita dari masyarakat bahwa ada satu rumah tongkonan di Toraja yang sudah berusia ratusan tahun. Uniknya lagi tidak seperti tongkonan pada umumnya yang menggunakan atap dari bambu atau yang lebih modern dari spandek/seng rumah tongkonan tersebut menggunakan atap batu. Yap, batu-batu cadas yang dipahat membentuk lempengan kemudan diberi lubang dan dirajut dengan rotan membentuk atap. Seperti kebanggaan masyarakat Toraja pada umumnya, setelah melakukan rambu solo (upacara kematian) tanduk-tanduk kerbau yang dikorbankan dalam acara tersebut dijejer dekat pintu masuk rumah. Di tongkonan tua ini juga ada puluhan tanduk kerbau yang sudah kering dan membatu dijejer dekat pintu masuk tongkonan. Saya sempat bertemu dengan pemilik rumah tongkonan batu ini, menurutnya rumah tongkonan ini dibangun oleh leluhurnya dan sudah berusia ratusan tahun. Sejumlah peneliti arkeologi pernah datang untuk meneliti tongkonan tersebut. Bahkan beberapa peneliti dari luar negeri. 
Penjual Kerbau
Tedong Bonga, Kerbau Paling Mahal Di Dunia
Kerbau atau biasa disebut tedong menjadi bagian penting bagi budaya Toraja. Selain karena latar belakang usaha masyarakat setempat yang beternak dan bertani yang sudah pasti menggunakan kerbau, Dalam sejumlah ritual juga kerbau menjadi simbol budaya. Saking pentingnya sampai ada pasar yang khusus untuk jual beli kerbau. Uniknya pasar kebaru ini hanya ada sekali dalam seminggu dengan hari yang terus berganti dan tempat yang berganti-ganti pula dengan cara bergilir. Pasar yang terbilang luas akan penuh dengan kerbau, hanya ada kerbau yang diperdagangkan. Harga kerbau sangat bervariasi. Tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya kerbau, tapi juga sampai pada kriteria-kriteria tertentu yang tidak umum digunakan. Terutama kerbau yang akan digunakan dalam upacara adat. Pemuka adat akan melihat baik-baik kriteria sebuah kerbau: tanduk, warna kulit, warna mata, bulu ekor dan detail-detail lainnya sebelum menentukan harga kerbau. Kisaran harga kerbau mulai dari 15 juta sampai dengan 1 Milyar. Saya tidak salah sebut, kerbau tertentu ada yang dihargai 1 milyar, setara dengan 4 unit kijang innova tipe tertinggi. Yang menjadi primadona tentu saja kerbau belang yang disebut Tedong bonga. Seekor tedong bonga jantan yang berukuran jumbo, bertanduk putih, dengan corak kulit dan mata serta ekor yang bagus akan dihargai sangat tinggi. Bahkan bisa mencapai 1 milyar.
Adu Kerbau
Upacara adat yang paling utama di Toraja bukan upacara pernikahan atau lahiran seperti didaerah lain. Upacara ada yang utama dalah upacara kematian rambusolo. Jika seorang anggota keluarga meninggal, maka jenazah tersebut akan diawetkan dan disimpan di dalam rumah selama beberapa bulan bahkan tahun. Sambil menunggu kesiapan keluarga untuk menggelar rambusolo. Ini adalah upacara besar yang membutuhkan waktu untuk persiapan dan dana yang tidak sedikit. Salah satunya untuk membeli kerbau dan babi untuk dipotong sebagai bagian dari upacara rambusolo. Namun disinilah letak ikatan tradisinya. Jika seorang anggota keluarga meninggal dan sang anak menyelenggarakan rambusolo, keluarga-keluarga jauh sang anak akan menyumbang kerbau dan babi untuk dipotong di upacara rambusolo. Dan nantinya sang anak punya kewajiban moral untuk ikut membantu menyumbang kerbau dan babi bagi keluarga yang dahulu pernah menyumbang kepadanya. Hanya kerbau jantan yang digunakan dalam rambusolo. Dalam suatu upacara kerbau dan babi yang dipotong bisa berjumlah belasan bahkan puluhan. Sebelum kerbau tersebut digunakan dalam upacara, Ada ritual adu kerbau untuk hiburan bagi sanak keluarga yang hadir di upacara rambusolo.
Kebersamaan dalam Rambu Solo
Sekalipun intinya rambusolo adalah upacara kematian, namun saya melihatnya sebagai pusat tradisi. Masyarakat Toraja sebenarnya sangat plural. Mereka sebagian besar beragama kristen dan masih ada yang menganut kepercayaan To Allo serta sebagian kecil muslim. Namun dalam upacara rambusolo sekat-sekat agama tersebut bukan suatu hambatan. Di upacara tersebut penyelenggara upacara membuat tempat khusus bagi tamu yang muslim dan hanya menyajikan makanan halal bagi mereka. Ini untuk menjaga keyakinan saudara yang muslim dan menghindari mereka menyantap yang haram. Tanpa membeda-bedakan atribut agama semuanya mengambil bagian dan membantu penyelenggaraan upacara.
Berkabung
Masyarakat toraja cukup banyak yg merantau keluar daerah. Upacara rambusolo menjadi ajang berkumpul dan saling mengenal kembali sanak saudara. Tua dan muda berkumpul dalam suasana duka dan berkabung. Berwisata di Toraja tidak hanya untuk mengenal alam yang indah. Ada banyak warna budaya dan sejarah yang turut menjadi karakter Indonesia. Yuk kenali Indonesiamu.

SALAM,
Sunset at Rocky Beach - Safruddin Alwi
Sunset sudah menjadi salah satu momen yang paling banyak diincar fotografer, ada sensasi yang menarik dari fenomena pergantian siang dan malam ini. Namun karena seringnya mungkin kita terkadang bosan alias mati gaya dalam membuat foto sunset. Bisa jadi karena keengganan untuk bereksperimen dan mencoba ide kreatif baru. Yang paling awal perlu dipahami adalah prinsip utama yang membedakan foto sunset (dan foto landscape pada umumnya), yaitu focal length. Lensa wide dengan focal length 16mm misalnya akan membentuk bulatan sunset tampak kecil dan kejauhan. Sebaliknya saat melakukan zoom ke focal length 100 atau 200mm bulatan sunset akan tampak semakin besar. Contoh foto "Sunset at rocky beach" saya menggunakan focal length 16mm.
Sunset Kota Semrawut - Safruddin Alwi -
Menggunakan focal length normal dengan rentang 35 s.d 50mm, atau biasa disebut focal length normal eye karena mirip dengan persepsi pandangan manusia normal. Rentang focal length ini minim distorsi dan umum dipakai untuk objek berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. Dalam foto sunset pun focal length ini akan menampakan bentuk matahari yang relatif sesuai dengan pandangan kita. Dengan memilih focal length semakin tele bulatan matahari akan semakin besar. Perlu diperhatikan bahwa saat obyek matahari dominan dalam frame foto, rentang exposure akan sangat tinggi sehingga obyek selain matahari akan membentuk siluet. Pembahasannya ada di sesi foto siluet INI ). Contoh foto Sunset kota semrawut menggunakan focal length 35mm dan foto"Nelayan" menggunakan focal length 100mm.
Nelayan - Safruddin Alwi -
Berikan Bentuk
Bentuk matahari yang bulat utuh seperti telur ceplok tidak selalu bisa didapatkan, bergantung pada kondisi cuaca. Adanya kabut atau awan di ujung horison akan sangat membant. Namun jika bentuk ini terasa terlalu lazim, berikan bentuk pada matahari tersebut. Lebih dikenal dengan istilah star effect, karena dengan cara ini sinar matahari akan membentuk sudut-sudut panjang. Tidak terlalu sulit set diafragma sekecil mungkin (f22) dan akan lebih dramatis jika posisinya ditempatkan di sisi suatu objek.
Diantara Karang - Safruddin Alwi -
Ghost and Flare
Bahkan masalah bisa dijadikan ornamen indah dalam sebuah foto. Ghost and flare sebenarnya muncul karena optik yang tidak sempurna sehingga muncul pantulan cahaya di permukaan lensa, sangat umum terjadi saat sumber cahaya yang kuat berasal dari depan lensa seperti pada saat memotret sunset. Dalam banyak kasus fotofgrafer harus meng-clone untuk menghilangkan ghost and flare tersebut jika mengganggu objek foto. Namun dengan menempatkannya pada posisi yang baik ghost and flare dapat menjadi ornamen menarik dalam foto sunset, seperti pada siluet tubuh di foto "Perjalanan Pulang".
Perjalanan Pulang - Safruddin Alwi -
Reflection
Cara paling umum mengambil foto sunset adalah dengan memotret straight langsung ke objek. Kita bisa memanfaatkan media yang dapat memantulkan refleksi sunset untuk membuatnya lebih menarik dan menjadi tidak biasa. Seperti menampilkan tipuan kecil yang dapat menarik perhatian. Media refleksi ini bisa apa saja sepanjang bisa memantulkan cahaya dan memberi refleksi yang utuh.
Bermain di Pantai - Safruddin Alwi -
Twin - Safruddin Alwi -
Make it Blur
Sunset selalu menghadirkan suasana yang kuat dan dramatis. Namun menghilangkannya serta membuatnya blur dengan miss focus justru bisa menguatkan suasana. Identitas sunsetnya tidak selalu hanya ada di bentuk mataharinya. Bias sinarnya dan kuatnya warna-warna warm yang dihadirkannya juga sangat menarik. Yang perlu diperhatikan, kita perlu diafragma besar untuk mem-blurkan matahari sehingga memungkinkan foto akan over exposure. Di foto "menjelajahi karang" berikut ini saya menggunakan f/4 dan akhirnya saya mencrop bagian langit yang terlalu terang, menyisakan bias matahari yang menjadi bokeh dan sangat menarik.
Menjelajahi Karang - Safruddin Alwi -
Interaksi
Saat menyaksikan sunset mungkin kita akan langsung mengambil gambar matahari tersebut begitu saja. Sayangnya terkadang hasilnya mengecewakan dan tidak menarik. Suasana sunset perlu diperkuat dengan memunculkan interaksi suasana sunset tersebut dengan lingkungan sekitarnya. Cara paling ampuh dengan menempatkan elemen foreground yang menarik dan menunjukkan identitas lingkungannya. Semisal foto berikut ini. Adanya perahu pada foreground dapat memberi identitas suasana dan lokasi tempat tersebut. Dan sebaliknya jika foto ini hanya ada matahari sunset dan pantai mungkin akan tampak membosankan.
Sunset di kampung nelayan - Safruddin Alwi -
Sekian share tentang foto sunset kali ini, semoga manfaat... SALAM.
Harmoni tentang alam
"Alam sudah diciptakan serasi dan harmonis, bagian-bagian di dalamnya saling terkoneksi membentuk hubungan yang saling mengisi saling mengimbangi. Termasuk hidup kita di dalamnya. Jadinya cukup aneh jika dengan sengaja kesalahan kita merusak hubungan yang kuat tersebut, namun tetap berharap alam tetap serasi dan harmonis. Karena kita tidak pernah siap menanggung akibat dari kerusakan alam yang kita ciptakan sendiri."

Akhir tahun lalu berita tentang tumpahan 25 ton minyak hitam di pantai Mentarau daerah Tiban menjadi salah satu hot news di Batam. Betapa tidak upaya recovery-nya saja sudah banyak menyita tenaga dan biaya. Pemerintah langsung reaktif dibantu TNI AL dan masyarakat nelayan untuk menanggulangi tumpahan minyak yang mengotori pantai. Belum lagi jika harus membayangkan kerusakan alam dan multiplier effectnya dalam jangka panjang. Sudah saatnya kita lebih mengutamakan kehati-hatian, dan mengantisipasi setiap kemungkinan kerusakan yang sangat mungkin kita ciptakan sendiri.
Deskripsi diatas sekilas pengingat bahwa anugerah alam yang sudah cantik ini sangat perlu untuk dijaga. Di tulisan ini saya akan bercerita tentang kekaguman saya di salah satu pantai terindah di Batam. Sebenarnya cukup banyak pantai yang mempesona di batam, sehari tak akan cukup untuk melihat semua pantai-pantai indah tersebut. Namun sebagian besar pantai yang masuk Top list sudah menjadi resort-resort mewah yang privat. Butuh gocek yang tidak sedikit untuk menikmati resort dan pantai-pantai itu. Nah pantai melur ini salah satu dari top list tersebut yang dikelola oleh semacam paguyuban masyarakat nelayan di sekitar melur. Bayangkan untuk masuk ke pantai secantik ini cuma butuh 15 ribu perak per mobil tak peduli seberapa banyak orang yang ada di mobil itu. Cerita lengkap perjalanan dan keelokan pantai melur ini akan ada di tulisan berikutnya. masih ada pojok-pojok lain penuh kejutan yang perlu dijelajahi. 
Menikmati pantai Melur
Secara khusus kali ini saya dan istriku tercinta ke melur sekedar untuk menyegarkan hati. Kami punya tradisi unik dalam setahun kami selalu menyempatkan melihat sunset dan sunrise di alam bebas. Pantai, puncak gunung, kampung nelayan dan tempat lainnya sudah kami datangi sekedar menikmati sunset atau sunrise. Menurut kami tradisi ini seperti proses recharge supaya lebih bersyukur dan lebih balance dalam hidup. Tidak banyak yang kami lakukan, sekedar duduk-duduk di atas pasir sambil bercerita banyak hal. Membasahi ujung-ujung kaki kami dengan air laut yang datang menggulung. Atau hanya tingkah dan tarian yang konyol. Memotret bagi saya dan menulis beberapa ceritera bagi istri saya tentu saja tapi bukan menu utama.
Sunset di pantai melur
Bagi sebagian kita sunset mungkin hal lumrah. Selalu ada setiap hari menjelang malam dan tetap di sebelah barat, setidaknya seperti itu sebelum kiamat. Tapi lumrah ataupun istimewa kita lah yang memaknainya. Dinamis sekali melihat perubahan matahari dan cahayanya, tak heran momen ini menjadi perburuan pecinta foto. Terutama di tempat-tempat wisata, selalu menarik mengabadikan saat matahari tenggelam di horison sana. Di melur garis pantainya cukup panjang dan membentang tepat ke arah barat. Karena berada di perairan yang teduh banyak kapal tanker yang berlabuh tak jauh dari garis pantai. Saat surut sisa-sisa biota laut yang tertinggal di pantai jadi pemandangan lainnya. Sesekali pompong-pompong nelayan hilir mudik. Mempersiapan aneka peralatan untuk di bawah melaut nanti malam. Setelah matahari benar-benar terbenam kami masih berdiam sebentar, tak kemana-mana. Ada momen sesaat ketika perlahan pandangan kami menggelap ada warna warni yang tersaji di atas horison yang ditinggal matahari. Terkadang ujung-ujung berkas sinar matahari masih tampak membelah di sela-sela awan yang memerah terbakar. Mengesankan sekali terlalu sayang jika sesuatu seindah ini pada akhirnya harus rusak.
Pantai Melur After Sunset
Akkarena dihantam ombak
Makassar, kampung halaman saya ini benar-benar serius berbenah untuk menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Secara alami Makassar (dan Sulawesi selatan pada umumnya) punya banyak objek yang potensial menjadi tujuan wisata, mulai dari wisata alam sampai dengan heritage. Sebut saja taman nasional Bantimurung dan Bulusaraung dengan nuansa air terjun dan pegunungannya. Malino dengan suasana puncaknya. Tanjung Bira dengan pasir putih pantainya dan biru bening air launya. Atau warisan benteng rotterdam yang sudah berusia lebih dari 500 tahun.
Pengunjung berlarian menghindari ombak
Di tulisan ini saya akan memberikan referensi wisata yang tidak seberapa jauh dari pusat kota, cukup dengan setengah jam menggunakan taksi anda sudah dapat sampai ke kawasan tanjung, pantai akarena. Kawasan tanjung sendiri tengah dibangun menjadi area wisata, disini juga ada Trans Studio Makassar. Akkarena artinya bermain, aksesnya yang mudah menjadikan pantai akkarena sebagai arena bermain keluarga terutama anak-anak. Dalam kondisi air surut pasir pantai cukup landai dan luas untuk bermain bola. Di sini pun telah disediakan banyak sarana permainan mulai dari jetsky sampai ke banana boat. Sayang sekali saya mengunjungi pantai akkarena ini bukan pada "best time" nya". Desember s.d Januari Angin dan arus ombak sangat kuat dan tidak diperbolehkan untuk berenang dan memanfaatkan sarana permainan. Untuk menikmati indahnya pemandangan di pantai ini dibangun dermaga kayu yang cukup panjang. Dalam even-even tertentu tempat ini dijadikan panggung konser. Dengan kondisi angin dan ombak yang sedang tinggi, kita perlu sedikit berhati-hati karena arus ombak bisa naik sampai ke dermaga.
Tak hanya keindahan pantainya di saat sunset, di akkarena banyak jajanan enak khas makassar. salah satunya tentu saja pisang epe. Ingin yang lebih berat, keluar dari area Tanjung kita akan disambut jejeran tempat kuliner sedap sepanjang pantai losari.
Penghuni Bromo
Belum puas "grasak-grusuk" di Makassar saya lanjut ke Surabaya dan salah satu gunung paling fotogenik di Indonesia, Bromo. Penggemar foto landscape hampir menjadi menu wajib untuk mengabadikan gunung bromo ini. Sedikit saran jika anda ingin mengunjungi bromo "best time" nya adalah antara April sampai dengan Juli. Cuaca cerah dan tidak hujan sangat membantu untuk menyaksikan deretan pegunungan yang mempesona dari pananjakan. Di momen liburan saya ini, gagal total untuk mendapatkan view menarik di pananjakan. Alih-alih mendapatkan foto istimewa, 15 menit setelah sampai di pananjakan kabut tebal menutup seluruh area. Saya bahkan tidak dapat melihat dengan jelas istri saya yang tepat disamping saya. Tidak lama kemudian hujan pun turun, demi kemaslahatan bersama saya pun bergerak turun dari puncak pananjakan tanpa satu fotopun.
Cuaca seperti ini mungkin tidak mudah secara fotografi. Tapi saya memilih mengambil sisi lainnya dan mencoba mengabadikannya dengan mencari spot selain spot sejuta umat pananjakan. Secara alami kawasan wisata bromo ini sangat indah, salah satu pemandangan pegunungan paling indah yang pernah saya lihat. Lautan pasir ribuan hektar dan deretan gunung batok, bromo, dan semeru menjadi padu padan yang istimewa. Selain itu masyarakat penghuni bromo yang ramah dengan budaya hindu yang terjaga menjadi sumber sensasi lain.
Pemandangan dari puncak gunung bromo
Dari puncak bromo pemandangan lautan pasir dengan guratan sisa-sisa jalur lava saat gunung ini meletus menjadi sajian utama. Tepat di tengah lautan pasir tersebut di ujung kaki gunung batok terdapat sebuah tempat ibadah masyarakat hindu setempat. Pagi hari setelah sunrise suhu di bromo 5 drajat celcius dan ini belum rekor terdingin. Pada tengah tahun suhu udara bisa anjlok sampai di bawah nol derajat celcius. Kondisi dingin ini biasanya disertai kabut dan dipuncak bromo anda harus sedia masker jika tak cukup kuat dengan kepulan asap belerang dari kawah bromo.

TIPS PERJALANAN
Waktu terbaik untuk berwisata di makassar antara februari s.d november. di Bulan Desember dan Januari curah hujan sangat tinggi disertai angin. Jika ingin memanfaatkan liburang desember sebaiknya anda mengambil destinasi tanah toraja. acara rambu solo banyak digelar diwaktu tersebut.
Waktu terbaik untuk berwisata ke bromo adalah antara April sampai dengan Juni. Namun perlu di ingat di waktu tersebut suhu di bromo bisa anjlok sampai minus derajat celcius. Jadi perlu persiapan jaket yang cukup tebal (berbahan parasut lebih dianjurkan) kaos tangan dan kupluk. Jika anda tidak cukup kuat dengan kabut atau asap belerang lebih baik melengkapi diri dengan masker. Senter juga diperlukan jika ingin menjelajah puncak pananjakan sebelum matahari terbit.
Batu Sindu Natuna
Tulisan ini bagian akhir dari kumpulan referensi berwisata di natuna (tulisan lainnya bisa lihat menu search posting). Destinasi dalam tulisan ini salah satu menu wajib saat berkunjung ke Natuna, saya sendiri sudah lebih dari 5 kali mengunjungi tempat ini. Lokasinya tak seberapa jauh dari Ranai Ibu kota Natuna dan cukup mudah untuk dijangkau, dengan sepeda motor sekalipun. Namun saya tidak menyarankan anda menggunakan sepeda motor ke tempat ini jika sendirian. Jalan yang sempit dan menanjak serta beberapa tikungan tajam cukup menyulitkan jika anda tidak cukup terbiasa menggunakan sepeda motor. Selain itu sisi kanan jalan adalah lereng bukit yang curam berbatu. Menggunakan mobil atau ojek penduduk lokal alternatif yang lebih baik. Cukup dengan perjalanan 15 menit anda dapat mencapai Tanjung Senubing.
Tanjung Senubing dengan Hamparan Batu Granit Raksasa
Ada apa di Tanjung Senubing? yang pasti tidak perlu membawa alat snorkling dan diving ke sini. Tanjung Senubing adalah pantai berbukit yang berbentuk teluk mengitari ratusan batu granit raksasa. Yaa raksasa, saya mengungkapkannya dalam arti yang lugas. Salah satu yang terbesar adalah yang disebut masyarakat setempat batu sindu, letaknya persis diujung teluk. Di foto pertama saya memotret kawan saya dari puncak batu yang lain. Awalnya beberapa kawan saya ini berniat mendaki ke puncak batu, namun tak ada rute yang memungkinkan untuk naik kesana. 
Seberapa tinggi batu sindu ini? rasanya lebih tinggi dari gedung lima lantai (lihat sendiri perbandingannya dengan ukuran tubuh kawan saya yang berada cukup dekat dengan batu sindu ini). Uniknya sebagian batu ini tertutup oleh tumbuhan rambat. Bahkan ada satu atau dua pohon besar yang tumbuh subur diatasnya dengan julur-julur akar panjang ke bawah meraih tanah. Cukup aneh memikirkan pohon tersebut bisa tumbuh subur diatas batu, hal yang sama juga terjadi pada batu-batu besar lainnya di sekitar batu sindu. Di sekitaran batu sindu ini banyak monyet-monyet liar yang berkeliaran terutama di bagian bawah batu yang mendekati laut. Jangan tanya mereka makan apa, saya tidak bisa menjelaskan itu, yang pasti tidak ada pohon pisang atau pohon buah di sekitar batu sindu ini. 
Batu granit seukuran kapal dengan bentuk dan susunan yang sangat unik
Susunan bebatuan raksasa seperti ini mengingatkan saya akan tebing-tebing batu curam di kawasan taman nasional bantimurung dan bulusaraung di Maros. Namun struktur bebatuannya sangat berbeda. Di Bantimurung-Bulusaraung adalah batu-batu tebing yang terjal, dengan suasana pegunungan. Di Senubing ini permukaan bebatuan rata bahkan sangat licin saat musim penghujan.
Ada dua rute utama untuk menyusuri lereng bukit yang mengarah ke masing-masing ujung teluk. Perjalanan menjadi lebih mudah karena telah dilakukan land clearing dan pembuatan undakan sepanjang tanjakan bukit. Semakin ke bawah batu-batu granit ini semakin banyak. Perlu kehati-hatian lebih saat musim hujan karena kondisi menjadi licin. Tak ada rumah penduduk di tempat ini hanya ada satu atau dua gubuk pemilik kebun. Mengamati bentuk dan susunan bebatuan granit sepanjang jalan memberi sensasi tersendiri. Sela-sela susunan batu membentuk gua-gua. Beberapa arkeolog pernah meneliti dan menemukan beberapa peninggalan prasejarah di gua-gua batu tersebut.
Sisi lain tanjung senubing
Teluk tanjung senubing menghadap langsung ke laut cina selatan sehingga arus lautnya sangat deras. Ditambah lagi dengan banyaknya batu, baik di pantai maupun di kedalaman air sangat berbahaya untuk berenang di sekitaran teluk. Perairan di teluk ini juga terbilang cukup dalam. Dengan pompong nelayan sekalipun cukup berbahaya untuk menyusuri teluk ini. Namun dengan menyusuri sela-sela batu di ujung pantai kita dapat sampai ke suatu spot di antara dua batu besar yang menghadap ke laut. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan menarik saat deburan ombak menghempas bebatuan dan pantai di kejauhan.
Arus laut yang deras menghempas bebatuan
Jika tidak ingin terlalu bersusah payah kita juga dapat bersantai di atas batu-batu untuk sekedar menyaksikan sunset dan sunrise. Panjangnya bentangan senubing ini membuat kita dapat menyaksikan juga pulau senoa dari kejauhan. Sangat disayangkan beberapa area di Tanjung Senubing ini adalah milik perorangan dan dijadikan kebun. Beberapa batu-batu unik yang berada dalam perkebunan mereka dihancurkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan batu untuk bangunan. Di ujung pantai juga kita dapat menyaksikan sisa-sisa vandalisme hanya sekedar untuk menunjukkan sebuah nama narsis atau ucapan "love" yang kena panah.
I'm in Tanjung Senubing
Cukup mengherankan tempat seindah ini belum digarap menjadi objek wisata daerah. Selain untuk tujuan wisata, Senubing dimanfaatkan sebagai lokasi radar penerbangan. Di puncak bukit kita dapat menyaksikan beberapa tower radar. Lengkap sudah cerita tentang spot-spot indah nan fotogenik di Natuna. Terlepas dari masih minimnya fasilitas umum dan transportasi saya menemukan banyak keindahan yang tak tertandingi di Natuna dengan keelokan alamnya asli hasil polesan Sang Pencipta. Dengan menyempatkan beberapa hari mengunjungi "The Northen Pearl" saya yakin satu hal, anda tidak akan puas dan suatu saat akan kembali lagi.
Postingan Lama Beranda

Latest Posts

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Tutorial Photoshop : False Color
  • Tutorial Memilih dan Menggunakan Filter Untuk Foto Landscape
  • Belajar Fotografi : Membuat Foto Siluet (Silhouette)
  • Tutorial Photoshop : Mengedit Warna dan Tone Sebuah Foto
  • Belajar Fotografi : Lebih Lanjut Tentang Komposisi
  • Wisata Natuna : Senoa, Pulau Ibu Hamil yang Mempesona
  • Tutorial Photoshop : Membuat Foto Montase (Montage)
  • Sebuah Liputan Lomba Dragon Boat Tanjungpinang (Photo Essay)
  • Warung Kopi Alias Kopitiam Favoritku

Top List

  • Pulau Penyengat, Pulau Kecil Dengan Sejarah Besar
  • Field Report : Landscape Pulau Senoa, Natuna
  • Sesi Model Komunitas Fotografi Kepri
  • Fotografer itu Sang Petualang Sejati
  • Hitam Putih dari Sisi Jalan

Search

Happy Daddy Story

Copyright 2010 Aftertaste Blog.
Blogger Templates Designed by AfterTaste